BAB V
Petunjuk Mengenai Scorpion
Tomy tidak bohong. Desa Siberia adalah desa yang sangat menawan dan mengagumkan. Banyak penemuan hebat luar biasa yang diciptakan Tomy. Erica bisa melihat, sepanjang mata memandang beragam cahaya kerlap-kerlip seperti bintang di langit seolah bertebaran di seluruh penjuru desa.
Kincir multifungsi yang diceritakan Tomy pun lebih menakjubkan daripada yang digambarkannya. Bukan hanya menimbulkan efek cahaya yang berpendar-pendar menerangi sepanjang aliran sungai, bahkan kincir itu memanjang seolah hendak membelah air terjun tepat di tengah-tengahnya. Putaran pada kincir menyemprotkan sedikit air terjun seperti turunnya air hujan. Hanya saja, air yang memancar berwarna-warni. Benar-benar indah.
Sepanjang desa disemarakkan beragam jenis lampion. Bentuknya pun unik. Bukan berbentuk hewan-hewan shio seperti biasanya, atau sejenis hiasan pajangan yang wajar. Tapi lampion ini terbentuk dari es yang mengkristal. Efek transparannya jadi terlihat alami dan indah. Warna lampionnya pun bukan hanya satu warna. Dalam satu lampion, dapat menghasilkan
“Indah sekali ya….” Gumam Billy. Erica yang berada disampingnya saat sedang memandangi langit yang cerah dimalam hari, hanya berdehem menyetujui ucapan Billy. Mata Billy lagi-lagi menerawang.
“Hmm…. Seandainya saja seluruh dunia seindah ini…. Pasti akan sangat menyenangkan ya Bil?” Billy hanya tersenyum menanggapi ucapan Erica.
Erica menatap Billy sebentar, kemudian beranjak masuk. Billy hanya menatap Erica yang melangkah kedalam
“Bagaimana dengan Scorpion, yah? Aku masih sangat penasaran dengan organisasi ini. Apa kau mengetahui sesuatu, Bil?” Billy menatap Erica bingung. Kemudian menatap mata Erica dalam-dalam seolah mencoba mengetahui semua yang berada dikepala Erica. Erica merasa risih.
“Kau ingin tahu?” Billy menyipitkan matanya. Berkata seolah dia mengetahui sesuatu. Erica mengangguk tegas. “Bagaimana jika kita menemui Tomy malam ini?” Billy tiba-tiba saja mengajukan usul yang aneh. Sepertinya kepala Billy selalu penuh dengan ide-ide yang tidak dimengerti oleh siapa pun.
“Untuk apa?” Erica langsung mengutarakan ke tidak mengertiannya. Billy tersenyum penuh kemenangan. Ditariknya pergelangan tangan Erica.
“Ikut saja!” Billy menyeret Erica. Erica sedikit kesulitan mengekori langkah panjang-panjang Billy. Setelah keluar dari serambi depan menuju perbukitan, mereka berpapasan dengan Elie dan Mrs William.
“Mau kemana kalian?” Tanya Elie ingin tahu.
“Ke rumah Tomy.” Sahut Billy pendek.
“Aku ikut, ya….” Bujuk Elie. sebelum Erica dan Billy mengangguk, Mrs William terlebih dulu angkat bicara.
“Elie, kau harus segera istirahat sekarang. Kau ingat pesan dokter,
“Ayolah, ma….. hanya sebentar saja. Lagi pula ada Erica dan Billy yang akan menjagaku. Benar,
Mrs William tetap menolak dengan tegas, Elie terpaksa tinggal di
Erica mengedipkan sebelah matanya sebagai isyarat akan menceritakan semua yang dia alami di rumah Tomy. Elie sudah mengetahui maksud tujuan Billy dan Erica pergi, karenanya dia ingin sekali ikut. Karena masalah ini berkaitan dengan Scorpion, itu berarti berhubungan dengan ayah yang di bencinya…..
***
“Oh, kalian Erica dan Billy ya? Teman Elie dari
Erica dan Billy langsung disuruh menuju kamar Tomy di lantai 2. “Sebenarnya untuk apa kita kesini, sih, Bil?” Erica sudah tidak tahan lagi.
Billy memberi isyarat diam. Sesampainya didepan kamar Tomy, mereka mendengar perbincangan Tomy dan Peter. Entah apa alasannya, mereka memutuskan untuk berdiam diri sebentar.
“Semua bukti sudah jelas dan mengarah pada mereka, Tom!” suara Peter. Entah apa yang mereka bicarakan hingga sepertinya suasananya sangat tegang.
“Kita tidak boleh sembarangan mengambil kesimpulan. Semua masih dalam praduga kita saja. Kuharap kau mengerti.” Tomy berusaha menjelaskan sesederhana mungkin. Tapi tetap saja Erica dan Billy yang sedang menguping tidak mengerti.
“Ahh…!!! Otakmu selalu saja penuh pertimbangan! Itulah sebabnya sampai saat ini penemuanmu baru sedikit. Kalau saja aku tidak memaksamu, mungkin kau tidak akan pernah menghasilkan apapun!” bentakan Peter membuat emosi Tomy meledak.
“Kau fikir, apa kau itu partner yang baik? Selalu saja memaksakan kehendakmu! Untung saja kita teman! Kalau tidak, mungkin aku sudah….”
“Sudah apa?” potong Peter. “Kalau begitu, mulai detik ini, anggap saja kita tidak saling mengenal! Selesai,
Sebelum Erica sempat membuka mulut, Peter berlalu tanpa membawa apapun. Erica mengalihkan pandangannya ke arah Tomy yang terduduk lemah. “Kalian bertengkar?” Erica bertanya dengan sangat hati-hati.
Tomy mengangkat kepalanya. “Kalian sudah mendengar semuanya. Menurut kalian bagaimana?” ucapannya terlihat sedikit culas.
“Apa masalahnya?” Billy duduk didekat Tomy membereskan berkas kerjanya.
Tomy menggeleng. “Hanya salah paham saja.” Jelas Tomy menutupi sesuatu dari Erica dan Billy. Beberapa saat kemudian, Tomy tersenyum ramah kearah Erica dan Billy. “
Erica menatap Billy, “Kami ingin minta tolong padamu. Apa kau ada waktu?”
***
“Scorpion??!!” Tomy terhenyak mendengar penuturan Billy dan Erica. “Kalian memiliki petunjuk mengenai mereka?” Billy dan Erica saling berpandangan.
“Sedikit.” Sahut Erica sambil mengeluarkan berkas yang ditemukannya di labolatorium milik ibunya. Tapi dia mengurungkan niat untuk menunjukkan kotak penyimpanan yang tidak ditemukan kuncinya.
“Ini. Apa kau dapat tolong artikan isinya?” Billy berkata dengan nada santai.Tomy menatap mata Billy tajam.
“Apa hubungan kalian dengan Scorpion?” Tomy terdengar seperti sedang mengintrogasi Erica dan Billy.
“Tidak ada. Tapi kami menemukan itu di labolatorium Ibuku. Aku hanya ingin tahu, apa Scorpion ada kaitannya dengan menghilangnya ibuku.” Ujar Erica.
Tomy berfikir sejenak. “Akan kucoba. Ayo ikut denganku.” Tomy beranjak keluar. Erica dan Billy mengikuti langkah Tomy. Sesaat sebelum keluar dari ruangan, Tomy berteriak kecil. “Erica! Bisa kau tolong ambilkan buku-buku yang tergeletak di lantai kamarku kesini?”
Erica bergegas masuk ke kamar Tomy lagi. Terlihat banyak sekali buku-buku non-fiksi seperti hipotesis Brosted Lowry, salah satu ilmuan kimia yang banyak mengemukakan zat kelarutan sampai buku maha karya Big Bang yang menjelaskan proses terjadinya alam semesta. Semua memiliki ketebalan lebih dari 500 halaman!
Mata Erica menyapu seluruh ruangan yang penuh dengan rak berisi buku itu. Matanya tertumbuk pada satu-satunya buku fiksi yang sepertinya pernah dilihatnya. Tangannya terulur ke atas untuk mengambil buku itu. Tanpa kesulitan yang berarti, Erica berhasil mengambilnya. Ditiupnya debu yang menutupi judul buku itu. Sepertinya sudah sangat lama tidak terpakai. Dibacanya judul buku tersebut.
Billy sampai di tempatnya. “Maaf, Bil. Bukunya berat sekali. Aku terjatuh tadi.” Erica berbohong dengan sangat lancar. Billy menatap Erica. Erica merasa tatapan Billy berbeda dari biasanya. Tanpa diduga, Billy menghampiri Erica.
“Kenapa tidak meminta bantuanku dari tadi, sih?” sungut Billy sambil mengambil tumpukkan Buku yang menutupi wajah Erica dengan lembut. Buku sukses diambil dari tangan Erica. Tapi sepertinya tindakan Billy barusan juga sukses membuat jantung Erica nyaris melonjak keluar.
“Ah…. Thanks.” Erica berusaha menutupi kegugupannya. Billy berlalu tanpa menoleh ke arah Erica. Terlihat Tomy menunggu mereka berdua dari arah tangga.
“Cepatlah, ayo turun.” Sahut Tomy santai. Erica dan Billy mengikuti langkah Tomy. Hingga mereka sampai disebuah pintu yang sama seperti pintu lainnya. Tomy menekan sebuah tombol. Sebuah alat seperti monitor kecil keluar dari balik dinding. Tomy meletakkan tangannya diatas monitor kecil itu, hingga pintu itu membuka secara horizontal.
“Wow. Hebat!” Erica berdecak kagum.
“Masuklah. Alat yang tadi itu adalah pelacak sidik jari. Hanya orang tertentu saja yang bisa masuk kesini.” Jelas Tomy singkat. Seolah mengerti keheranan di wajah Erica. Tapi Billy terlihat tenang seperti sudah biasa melihat hal semenakjubkan tadi.
Erica melangkah masuk. Beberapa saat kemudian, suara mesiu memenuhi seluruh ruangan. Sekejap, sebuah tangga menuju ruang bawah tanah terbuka. Erica tetap tidak bisa melontarkan kata-kata terkejut atau pujian.
Tomy berjalan lebih dulu. Billy mengikuti, kemudian Erica. Mereka sampai disebuah ruangan yang tidak pernah mereka temui sekali pun. Terliha seperti…. Ruangan masa depan. Berbagai hologram, mesin-mesin, monitor, sampai layer tiga dimensi lengkap berada disana.
Billy meletakkan tumpukkan buku-buku yang dibawanya diatas sebuah meja kaca. Sedang Tomy langsung menuju layar datar terbesar yang berada di depan labolatoriumnya. Erica menghampiri Billy yang mengamati Tomy bekerja. Billy terlihat sangat serius.
Erica menggunakan kesempatan itu untuk menyembunyikan buku yang ditemukannya tadi dari tumpukkan buku yang dibawa Billy. Dilemparnya buku itu kebawah meja. Beberapa saat kemudian, Tomy menghampiri mereka.
“Sekarang, apa yang ingin kalian ketahui?” Tomy membuka suara.
“Semuanya.” Billy menjawab dengan pendek. Erica menatap Billy heran. Sikap Billy sedikit berubah sekarang. Semenjak tadi siang saat mereka berbincang-bincang dengan Tomy dan Peter ingatnya.
Tomy menatap Billy lagi. Suara-suara gelembung dari tabung raksasa yang berada di empat sisi labolatorium saja yang membuat suasana tidak terlalu mencekam. “Baiklah. Kita mulai.” Tomy mengambil bundelan kertas yang diterimanya dari Erica.
Dia menuju layar raksasa yang telah didatanginya saat masuk ke lab. Mengutak-atik beberapa tombol. Fungsi layar itu seperti computer berotak brilian. Dengan cepat, computer melakukan perintah yang dilakuakan Tomy dengan memencet tombol atau dengan suara.
Saat terbuka, terlihat dengan sangat jelas tulisan-tulisan yang mmbuat mata mereka tidak berhenti berkedip.
***
TO BE CONTINUED…

Tidak ada komentar:
Posting Komentar