BAB III
Pertemuan Dengan Elie
Marah, bahagia, sedih, senang, bermain, tertawa, kesepian, sendirian… adalah hal yang terus berputar di dunia ini. Tidak ada seorang pun yang selamanya hidup bahagia. Juga tak seorang pun yang selamanya sendirian dan kesepian.
Begitu pula Elie. Gadis yang dahulu periang, hidup melimpah kasih sayang dan materi. Dilimpahi semua hal yang dibutuhkan dalam pertumbuhan seorang anak. Tapi semua kebahagiaan itu berakhir saat ada orang yang merenggutnya dengan paksa.
“Ma, aku mengalaminya lagi. Bayang-bayang itu begitu jelas. Tapi kali ini sangat mengerikan. Aku takut…” sahut Elie bermanja-manja.
Mrs Robston membelai kepala anaknya dengan lembut. “Elie, terkadang semua anak seusiamu sering melihat hal-hal aneh saat tidur. Itu bukanlah hal yang berlebihan. Kau normal, seperti anak-anak yang lain.” Hibur Mrs Robston.
Elie merajuk lagi, “Mama masih ingat apa yang kukatakan pada Mama tempo hari? Aku melihat bayang-bayang Papa jatuh dari atap dan terluka. Dan beberapa saat kemudian Papa benar-benar jatuh dari atap kan, Ma? Tapi kali ini jauh lebih mengerikan. Sangat mengerikan. Aku melihat darah… begitu banyak darah… pisau… dan, dan sprai putih yang berlumuran darah… lalu aku melihat seseorang… dia berteriak mengemis minta tolong… tapi tidak ada siapapun disana yang mau menolong… lalu orang itu… darah… berdarah…”
“Cukup, sayang.” Sahut Mrs Robston menghentikan kegilaan putrinya. “Hal seperti itu hanya mimpi, kau mengerti? Hanya mimpi. Mama mohon jangan bersikap seolah kau memiliki kelebihan untuk membaca masa depan. Mama khawatir kalau ada orang yang mencelakaimu hanya karena hal konyol seperti ini. Oke?” tegas Mrs Robston. Itu menjadi kesepakatan mereka.
Elie sekolah seperti biasa hari itu. Bermain bersama temannya sampai sore. Dan terhenti saat bayang-bayang itu muncul semakin jelas. Nyaris membuat kepalanya pecah. Elie berlari… berlari menerobos hujan yang entah sejak kapan turun.
Dengan basah kuyup, Elie masuk kedalam rumah. Pandangannya sedikit mengabur karena air hujan yang sempat masuk ke matanya. Sesuatu memaksa Elie untuk bersembunyi saat terdengar derap langkah kaki yang mendekati tempat berdirinya. Elie berlari kearah rak sepatu yang setidaknya cukup untuk menyembunyikan tubuh mungilnya.
Suara beberapa laki-laki dewasa yang berat, desahan nafas yang tidak beraturan, dan obrolan mereka mengenai… rencana pembunuhan, pembantaian… tak sanggup didengar dengan sempurna oleh Elie. Tubuhnya menggigil. Sangat menggigil. Elie berusaha menyembunyikan aura keberadaannya.
Dibalik celah pintu yang sedikit terkuak, dia melihat salah seorang dari mereka mengenakan jas. Jas dengan lukisan dibagian belakangnya. Terlihat dengan sangat jelas. Lukisan kalajengking dengan darah disekitarnya. Saat mereka beranjak mendekati pintu, Elie menangkap sebuah suara yang amat dikenalnya. Sebuah suara yang dikaguminya.
“Sayang sekali anakku belum pulang. Kalian akan sangat senang jika bermain dengannya.” Ayah! Ayah! Ayah! Ayah! Hati Elie menjerit keras sekali. Elie semakin ketakutan.
“Kau bisa menyerahkan putrimu itu saat dia sudah dewasa nanti, Rob,” ujar yang lainnya. “Menyenangkan sekali bermain dengan istrimu”
BLAM.
Mereka keluar dan menutup pintu dengan keras. Elie keluar dengan berlinangan air mata. Entah apa alasannya, tapi hatinya kini terasa begitu sakit. “Mama!” Elie berlari menaiki tangga dan beranjak ke sebuah kamar. Dibukanya pintu dengan perlahan. Harapannya hanya satu sekarang. Semoga tidak terjadi sesuatu pada ibunya. Hanya itu.
Pintu berderit kecil. Elie melangkah masuk, nalurinya memaksa untuk menyibakkan selimut yang menutupi tubuh seseorang. Pupil matanya kontan membulat saat melihat tubuh ibunya. Ibu yang amat dicintainya itu terbaring tak bernyawa dengan sebuah belati didadanya. Darah menyebar ke seluruh sprai putih ditempat tidur. Dan yang lebih mengerikan… sosok Mrs Robston…
Terbaring tanpa busana…
Elie berusaha berteriak. Tapi suaranya tak kunjung keluar. Semua terasa gelap… saat dia sadar, ibunya telah dimakamkan dan dia… tidak pernah melihat ayahnya setelah itu. Tidak pernah sama sekali.
Keluarga William yang terenyuh terhadap tragedi mengerikan yang dialami Elie, mengadopsinya menjadi anak. Alasan lain karena mereka tidak memiliki anak. Tapi semenjak kejadian tragis itu, Elie menutup hatinya rapat-rapat. Menyendiri… Selalu sendirian… tak seorang pun yang melihat Elie tersenyum seperti dulu. Tak seorang pun yang benar-benar tahu, kepedihan apa yang bersarang dihatinya… tak seorang pun.
***
“Apa Pa? kita mau kerumah sepupu Papa di California? Papa tidak pernah menceritakan sepupu Papa itu sebelumnya, kan?” tukas Erica setengah terkejut.
“Yah… sebenarnya dia sepupu Mama mu Erica. Rencananya Papa mau meminta untuk membuat persetujuan mengenai hak milik vila nenek di Siberia. Kamu sudah tahu tentang itu, kan? Papa berniat membuat penginapan disana.” Jawab Mr Hilmer santai.
“Tapi, Pa… proyek itu bisa ditunda, kan? Setidaknya sampai turnamenku dan Billy selesai. Kami tidak bisa menangguhkan pertandingan ini.” Protes Erica.
Mr Hilmer menggeleng dan beranjak menuju meja kerjanya. Mengambil beberapa berkas, dan meminum secangkir kopi. “Ini bukan sekedar proyek biasa, Erica. Ini menyangkut masa depan perusahaan Papa. Papa sudah merintis bisnis ini sangat lama. Dan ini adalah kesempatan emas untuk mendapatkan saham banyak. Papa berani mengambil resiko ini karena Papa fakir kau bisa diajak bekerja sama. Kecuali kalau kau mau tinggal dirumah. Dan Papa pergi sendiri ke California.” Tegas Mr Hilmer.
Erica nyaris menangis karena Mr Hilmer tidak mempedulikan protesnya. “Sudahlah, Er. Kupikir pertandingan ini bisa digantikan.” Sahut Billy dari ambang pintu.
“Tapi…! Pelatih akan sangat kecewa, Bill! Kau tahu itu, kan? Pertandingan ini mereka serahkan pada kita dengan harapan sekolah kita dapat membawa piala dan kebanggan untuk pertama kalinya! Aku tidak dapat membayangkan kalau…”
“Kau tidak berfikir kalau kau yang terhebat, Kan?”sela Billy ketus. “Lagi pula, ptoyek Paman jauh lebih penting dan memiliki masa depan dibandingkan pertandingan yang bahkan kita tidak mengetahui hasilnya.”
Mr Hilmer mengangguk. “Pikirkan baik-baik, sayang. Papa tidak berniat memaksa. Hanya… berat bagi Papa untuk meninggalkanmu sendiri dirumah. Tapi kalau kalian bersikeras mengikuti turnamen itu, Papa juga tidak bisa membatalkan keberangkatan Papa ke California. Dan kalian terpaksa ditinggal dirumah.” Ujar Mr Hilmer.
“Aku ikut, Paman. Pertandingan ini bukan segalanya bagiku. Tapi mungkin aku dan Erica sedikit berbeda pendapat.” Sahut Billy cepat. Erica mendengus kesal. Beranjak keluar, dan masuk kedalam kamarnya,
BLAM.
Pintu ditutupnya dengan keras.
***
Erica menekuk wajahnya.diliriknya Billy dengan kesal karena sepanjang hari berseri-seri tanda kemenangan. Akhirnya dia pergi meninggalkan turnamennya menuju California. Hanya untuk itu. Baginya ini merupakan kekalahan yang lebih menyakitkan dari pada kalah saat pertandingan. Seharusnya dia bersedia saja ditinggal dirumah.
“Paman, sepertinya ada seseorang disini yang menginginkan ice cream. Apa tidak lebih baik membelikannya dari pada harus semobil dengan orang yang terus-terusan menekuk wajahnya?” sindir Billy. Mr Hilmer tertawa keras. Erica semakin kesal. Karenanya, dialihkan perhatiannya ke arah jalanan. Matanya menyapu seluruh pemandangan kota kecil dengan gedung-gedung pencakar langit yang tidak setinggi di Washington.
Mobil APV milik Mr Hilmer membelok ditikungan, ke arah jalan kecil di pinggir kota. Bangunan sederhana kontras dengan wilayah disekitar kota kecil California berdiri dihadapan mereka. Mr Hilmer menghentikan mobilnya di pekarangan rumah itu. Mr Hilmer, Erica dan Billy keluar dari mobil.
Mr Hilmer mengetuk pintu. Seorang wanita separuh baya berdiri dihadapan mereka. “Selamat siang, apa betul ini kediaman keluarga William?” Tanya Mr Hilmer sopan.
“Ya, betul. Ada perlu apa?”
Mr Hilmer terlihat senang. “Maaf mengganggu. Saya Mr Hilmer…”
“Ah, iya saya tahu! Anda Mr Hilmer dari Washington? Saya sudah mengetahui rencana kedatangan anda hari ini. Silahkan masuk.” Mrs William memekik girang. Lalu dengan sedikit terkejut dengan sambutan yang diterimanya, Mr Hilmer menuruti ajakan wanita itu. Diikuti oleh Erica dan Billy.
“Bagaimana anda mengetahui kedatangan saya? Seingat saya, anda belum saya kabari mengenai kunjungan ini.” Ujar Mr Hilmer saat dipersilahkan duduk.
“Bagaimana mengatakannya, ya… kami memiliki seorang anak yang memiliki naluri sedikit tepat. Yah… ini hanya lelucon. Lupakan saja. Baik, bagaimana dengan memulai pembicaraan dari, ehm… memperkenalkan kedua anakmu ini, Hilmer?” suasana mulai mencair. Mr Hilmer memperkenalkan Erica sebagai anaknya dan Billy sebagai anak asuhnya.
Erica menyimak basa-basi yang dilontarkan Papanya dengan sedikit tertarik. Terutama pembicaraan mengenai anak dari Mrs William. “Maaf, Bibi. Bisakah saya ke kamar mandi?” sela Erica tiba-tiba.
“Oh, tentu Honey! Toilet ada diatas. Naiklah dari tangga utama di ruang tengah, kemudian di pojok kiri ruangan kau hanya tinggal berbelok kedalam sedikit.”arah Mrs William. Terlihat sekali Mrs William adalah wanita yang sangat ramah.
Erica tersenyum, “Thank’s”
Erica segera menuju toilet yang ternyata berada persis di sebelah kamar seorang cewek. Erica tahu hal itu dari plat nama yang terpajang didepan pintu yang bertuliskan ‘ELIE’.
Cepat-cepat Erica menuju kamar mandi. Beberapa saat kemudian, dia keluar. Langkahnya sedikit terhenti saat samar-samar, terdengar suara isakan dari dalam kamar itu. Pastilah penghuninya sedang menangis. Dengan didorong rasa ingin tahunya, Erica memutar kenop pintu yang tidak terkunci. Pintu terbuka sedikit. Erica melihat seorang anak perempuan seusianya menangis. Dari gelagatnya, sepertinya gadis itu tidak menyadari kehadirannya.
“Permisi, boleh aku masuk?” gadis itu menoleh dengan sangat terkejut. Erica terlonjak saat melihat mata anak itu, mata coklat yang ditemuinya saat itu. Gadis misterius yang tiba-tiba saja menghilang. “Kau gadis yang waktu itu?”
“Apa yang kau lakukan dikamarku?! Apa orang tuamu tidak pernah mengajarimu sopan santun? Kau lancang sekali! Aku tidak suka kau seenaknya masuk kesini. Ini wilayahku!” pekik gadis itu tanpa senyum.
“Maaf, aku hanya ingin tahu apa kau baik-baik saja? Karena saat aku melewati kamar ini, aku mendengar suara orang menangis. Kupikir terjadi sesuatu padamu,” Erica berusaha care dengan gadis cilik ini.
“Apa aku terlihat sedang menangis? Apa aku terihat bermasalah? Kalaupun iya, kau tidak punya hak untuk memaksaku mengatakannya padamu, kan?! Satu-satunya masalah disini adalah Mamaku telah menerima tamu yang salah!” jerit gadis itu tidak terkontrol.
Erica tersentak. “Hey… aku hanya bertanya padamu, aku sama sekali tidak berniat mengganggu. Lagi pula kita seusia. Akan lebih baik jika kita berteman, kan?” Erica melihat mata gadis itu menatapnya dengan garang.
“Aku tidak membutuhkan teman! Kau hanya berniat memanfaatkanku, kan? Aku benci orang asing! Pergi dari kamarku!!” jerit gadis itu. Wajahnya memerah.
“Walau kami orang asing, tidak sepantasnya kau mengusirnya seperti itu. Biar bagaimanapun juga, kami tamu orang tuamu” tiba-tiba Billy muncul dari belakang dengan sinis. “Ayo pergi, Erica. Untuk apa kau mengajak bicara orang yang tidak bisa diajak bicara seperti dia.” Billy menarik lengan Erica. Memaksanya keluar dari kamar itu.
Mrs William tergopoh-gopoh menghampiri Erica dan Billy karena terdengar keributan tadi. “Apa terjadi sesuatu denganmu, sayang?” Tanya Mrs William tergesa-gesa.
“Yah… sedikit ada keributan dengan anak Bibi tadi. Mungkin kami terlalu lancang mengajaknya bicara. Dia tidak terbiasa bergaul dengan orang asing, kan?” Billy berbicara dengan nada yang sangat tajam. Erica sedikit terkejut dengan ucapan Billy.
“Oh, maafkan Elie. Dia sangat pemurung. Sejak kecil dia menderita penyakit autisme. Seharusnya kukatakan lebih awal pada kalian agar tidak mengganggunya. Maafkan aku. Aku janji kejadian seperti ini tidak akan terulang lagi.” Erica merasa canggung dengan situasi seperti ini.
“Tidak apa-apa Bibi. Aku hanya ingin berteman dengannya. Kurasa dia hanya sedikit tertekan.” Erica tersenyum di hadapan Mrs William.
***
“Aku tidak menyangka kita akan menginap disini! Kau fikir, hari seperti apa yang akan kita lalui dengan anak perempuan egois seperti dia? Apalagi kau akan sekamar dengannya,” gerutu Billy saat sedang mengemasi barang-barang dari bagasi mobil.
“Sudahlah, Bill. Sepertinya Elie anak yang baik. Kau tidak perlu membentaknya lagi seperti tadi. Terlebih ucapanmu itu sangat tajam.” Sahut Erica. “Tolong bawakan ini” Erica memberikan kopernya yang sangat berat.
“Yah… anak baik yang bisa mengatakan hal seculas itu. Kau memikirkan apa, sih? Dia itu anak penderita autisme. Penyakit aneh yang hanya akan mengidap pada orang aneh. Kurasa pantas kalau dia dijauhi orang disekelilingnya.”
“Hey, Bill! Kurasa ucapanmu itu harus sedikit dikontrol! Dia anak pemilik rumah, dan sebisa mungkin kita harus berhubungan baik dengannya. Setelah ini, kita masih harus menginap 3 hari. Hari yang amat panjang untuk mendengarkan gerutumu, bukan?” cibir Erica jengkel.
Erica mengangkat barang-barang yang ringan kekamar tamu. “Yah… hari yang panjang bersama anak-anak yang membosankan..” lirih Billy.
Erica beranjak menuju kamar Elie. “Erica, apa tidak apa-apa kau sekamar dengan Elie? Kalau mau, kau bisa memakai kamar tamu dibawah. Walaupun kecil, tapi kurasa nyaman kalau kau menginap disana.” Tawar Mrs William pada Erica. Erica merasa seluruh orang berusaha untuk menjauhkannya dari Elie.
“Tidak apa-apa, Bibi. lagipula aku takut kalau harus tidur sendiri.” Sebuah kebohongan kecil Erica lakukan hanya untuk bisa sekamar dengan Elie.
Erica masuk dan mendapati Elie di atas tempat tidurnya, sedang mencoret-coret sebuah kertas. Ketika Erica datang, buru-buru disembunyikannya kertas itu. “Hey! Aku menginap disini malam ini. Apa boleh aku masuk?” Erica membuka pembicaraan. Terlihat Elie lebih bisa mengontrol emosinya malam ini.
Karena tidak mendengar jawaban dari Elie, Erica segera mengambil posisi tepat disebelah Elie. Tempat tidur yang cukup besar untuk satu orang. Elie spontan terlonjak kaget. “Apa yang kau lakukan disini?” pekik Elie.
“Sudah kukatakan, kan? Aku menginap disini malam ini. Dan ibumu menyuruhku tidur disini. Dikamarmu. Jadi, ini wilayah kita berdua, kan?” Elie terlihat kesal sekali. Tapi dia tidak berteriak untuk mengusir Erica, atau melempari Erica dengan barang-barang yang berada didekatnya, atau bahkan membuang barang-barang Erica. Hal itu sama sekali tidak dilakukannya.
Erica merasa aneh dengan perilaku Elie. Tapi hal itu tidak di pedulikannya, saat Elie memutar tubuhnya dan tidur dengan membelakangi Erica. Erica tidak bisa berbuat sesuatu yang lebih untuk mencairkan suasana.
“Hey El, kau tahu sesuatu mengenai pengorbanan?” Erica memulai perbincangan saat beberapa lama terdiam. Elie diam tidak menjawab. Tapi Erica merasa Elie mendengarkan ucapannya. Elie belum tidur. “Mamaku selalu memberiku beberapa alasan mengenai hal yang kutanyakan. Dia wanita yang amat cerdas. Ketika aku bertanya padanya mengenai impian yang kuinginkan, dia menjawab dengan simplenya kalau semua hal itu dapat kita raih dengan pengorbanan. Pengorbanan yang pantas diberikan untuk menggapai impian itu sendiri… pengorbanan yang setimpal.”
Suasana sunyi seketika. Elie sama sekali tidak berkomentar. Erica melirik ke arah Elie yang masih tetap membelakanginya. “Mama selalu mengatakan alasan pada setiap hal yang dia perbuat.” Erica berbicara lagi. “Tapi tidak pada satu hal. Mama tidak pernah mengatakan alasan mengapa dia pergi, mengapa dia tinggalkan kami selama ini. Dia tidak pernah memberikan alasan mengapa dia melakukannya…”
“Berhentilah membual mengenai ibumu! Aku tahu kau bermaksud mendekatiku dengan cara rendah seperti itu, kan? Kau pembohong!” Elie menarik tubuhnya, mengambil kasur lipat yang terletak di bawah tempat tidur, dan tidur di lantai. Meninggalkan Erica terpaku mendengar hentakkannya.
Malam itu mereka lalui dalam diam…. Dan suram….
***
“Aku tidak mengerti mengapa dia begitu membenciku. Padahal aku merasa dia sama denganku. Tapi dia selalu berwajah masam kalau didekatku. Juga berkata kasar kalau aku berbicara. Apa aku mengatakan sesuatu yang membuatnya kesal? Apa aku salah, Bill?” Erica mengatakan isi hatinya siang itu ketika mencabuti rumput di taman keluarga William.
Billy menatap Erica. “Sudah kukatakan berapa kali padamu, Er?! Dia itu gila! Untuk mendekatinya saja kau harus melalui tekanan seperti itu. Biasanya orang akan senang kalau mendapat teman baru. Tapi Elie? Dia gadis yang aneh! Seharusnya kau mendengarkan kata-kataku! Mulai sekarang berhentilah membuang-buang tenagamu hanya untuk mendekatinya.” Erica terdiam mendengar ocehan Billy.
“Aku tahu akan terlihat aneh jika orang melakukan tindakan seperti yang dilakukan Elie padaku. Tapi Elie lain, dia memiliki sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang sama denganku. Aku tidak tahu hal apa itu. Tapi kurasa… dia itu seperti terbuang dari kehidupannya. Mungkin ini hanya dugaan konyol. Aku tahu.”
“Yah… sangat konyol.” Potong Billy.
“ Tapi keinginanku untuk akrab dengannya sangatlah kuat. Aku ingin… yah…. Katakanlah berbagi cerita dengannya. Alasan simple untuk mendekatinya, bukan?” aku Erica pasti.
“Sejak kapan kau jadi ingin ikut campur urusan orang lain? Biar bagaimanapun juga usahamu untuk memaksanya menceritakan tentang dia. Menceritakannya padamu. Yah… kurasa kau juga tidak bisa memaksanya, kan? Walau seandainya kau menjadi ibunya pun ada batasan privacy setiap orang, bukan?” Erica terdiam sebentar.
“Yah… aku tahu aku tidak memiliki hak untuk memaksanya. Tapi…”
“Berhentilah untuk mendekatinya! Aku tidak suka dengan gadis itu! Dia terlalu tertutup. Terlalu dewasa. Terlalu sendiri dan kesepian. Kau hanya akan repot kalau dia ada didekatmu. Dia anak penderita autisme semenjak orang tuanya meninggal. Alasan yang tidak kuat untuk membuat setiap orang patah semangat untuk hidup. Dia lemah, Erica. Dia sangat lemah. Dan semua orang benci pada orang lemah….!”
“Katakan lebih banyak lagi. Katakan lebih banyak lagi.” Tiba-tiba suara lain muncul dibelakang mereka. Elie!. “Katakan lebih banyak lagi yang kau tahu tentangku. Lebih banyak. Biar kau puas. Aku memang tidak normal. Tapi aku lebih terhormat daripada kau yang suka memaki orang tanpa bukti yang kuat, seolah kau tahu segalanya tentangku. Walau kau berpura mengerti tentangku, tapi kau sama sekali tidak tahu. Hal apa yang membuatku seperti ini.”
Elie menatap Billy tajam. Air mata mengembang dipelupuk mata Elie. Menunggu terjatuh saja. Kemudian Elie berlari dengan kencang. Erica berlari mengejar. “Elie. Billy hanya bergurau. Dia tidak serius memakimu seperti itu. Kimohon maafkan dia.” Elie mengibaskan tangannya dari hadapan Erica.
“Kau pikir aku bodoh? Kau mengira aku terlalu tolol untuk melihat gurauan atau benar-benar makian? Kau sudah dengar dari temanmu kalau aku ini lemah, kan? Ya sudah. Lakukanlah apa yang kalian inginkan tanpa menggangguku.”
Elie berlalu. Erica menatap tajam ke arah Billy. “Puas kau Bill! Kau telah membuat orang yang tidak bersalah menangis! Terima kasih kau sedah mempersulit langkahku.” Erica berlalu tanpa senyum. Billy tercenggang.
“Temanmu telah menyinggung perasaannya. Sayang.” Mrs William menghampiri Erica yang berjalan mengejar Elie. Mrs William menarik nafas panjang. Mendesah pelan. “Elie menjadi seperti sekarang ini bukan karena keinginannya. Dia seperti ini karena kehidupan masa lalunya. Aku hargai keinginan tulusmu untuk berteman dengannya. Tapi lebih baik jangan dekati Elie lagi. Hal itu hanya akan membuat Elie lebih tersiksa dan lebih sulit mempercayai orang lain,” nada suaranya datar. Erica merasa kekakuan dalam situasi ini.
“Maaf, Bibi. apa aku boleh tahu…. Sebenarnya…. Apa yang …. Elie alami? Sampai dia begitu egois dan kasar seperti ini? Aku benar-benar merasa nyaman didekatnya. Karena aku yakin dia anak yang sangat manis, bukan?” Erica berusaha mengambil hati Mrs William.
Mrs William memperhatikan Erica sebentar. “Kau tidak bisa bayangkan, bukan? Kalau Ibumu sendiri… mati dengan mengenaskan. Terlebih kau tahu, kalau ayahmu yang membunuhnya. Apa hal itu dapat membuatmu merasa mudah untuk melupakan kesedihan? Belakangan dia mengetahui kalau ayahnya juga merupakan kelompok pembunuh Scorpion yang sedang diburu polisi internasional. Apa hal itu tidak membuatmu risau?” Mrs William berlalu pergi setelah mengatakan semua kebenaran itu pada Erica.
Erica terpaku sejenak.
Erica beranjak pergi mengejar Elie. Dengan cepat ditemukannya Elie tengah menangis di serambi kamarnya. Erica mendekati Elie dengan perlahan. “Untuk apa kau kesini! Belum puas kau maki aku! Apa belum cukup semua kata-kata teman sok tahumu itu untuk meyakinkanmu kalau aku ini begitu banyak memiliki kekurangan? Aku seperti ini. Dan tidak ada seorang pun yang berhak untuk mengatur kepribadian atau bahkan hidupku!” Elie berkata dengan sesekali mengatur tangisnya.
Erica menyentuh bahu Elie lembut. Elie diam saja. Tidak mengamuk atau bahkan mengibaskan tangan Erica dengan kasar lagi.
“Aku memang tidak kehilangan Ibuku untuk selama-lamanya. El. Tapi aku dapat merasakan kepedihan hatimu karena merasa dikhianati. Terlebih oleh ayahmu sendiri. Bukan hal yang mudah untuk diterima. Tapi aku memiliki kesamaan denganmu.” Elie menatap Erica dingin. Menunggu kata selanjutnya.
“Kau tidak mengerti aku. Jadi berhentilah membual lagi!” pekik Elie kasar.
“Kumohon, dengarkan aku! Kau merasa ingin tahu apa alasan ayahmu melakukan semua hal ini padamu, juga pada ibumu, bukan? Aku punya beberapa petunjuk. Mengenai Scorpion. Kita bisa mencari tahu bersama. Ibuku menghilang juga mungkin ada hubungannya dengan mereka. Aku yakin itu. Kau sama denganku. Kau memiliki keinginan yang tidak jauh berbeda dengan apa yang kuinginkan. Kita memiliki sedikit persamaan, El! Dan hal itu bisa memberi kita alasan untuk berteman.”
Elie menutup wajahnya. “Kau salah jika kau fikir aku mau mengetahui sedikit atau bahkan semua tentang Ayahku. Aku membencinya. Sampai kapan pun hal itu tidak akan pernah berubah.” Erica tersenyum getir. Melihat Elie yang begitu menaruh dendam yang amat besar pada Ayahnya sendiri.
“Aku yakin, Ayahmu mempunyai alasan mengapa dia melakukannya. Kau berhak mengetahui alasan itu. Untuk membuat hatimu tenang, akan lebih baik kalau kau mencari tahu. Setidaknya karena itulah aku bisa lebih optimis sekarang untuk menemukan Ibuku.”
“Apa yang bisa kau perbuat? Kita masih remaja. Tidak besar peluang kita untuk mencarinya.” Elie menengadahkan kepalanya ke arah Erica. Erica tersenyum.
“Berarti kau setuju untuk melakukannya, kan?” Elie mengalihkan wajahnya. “Baiklah. Sudah diputuskan. Kau akan ikut kami dalam melakukan misi ini. Misi rahasia. Ok!” Elie tercenggang.
“Kami?”
“Yah… kita bertiga.” Billy keluar dari balik pintu setelah mendengarkan perbincangan mereka berdua. Elie sedikit terkejut. “Aku tidak akan menarik kata-kataku tadi. Dan aku juga tidak akan minta maaf. Tapi aku bisa menerimamu bersama kami. Sekarang kita teman, kan?” Erica tersenyum mendengarkan kata-kata Billy. Hari yang baru, mereka mulai dengan lebih bersemangat.
***
TO BE CONTINUE…

Tidak ada komentar:
Posting Komentar