Senin, 10 Maret 2008

BAB IV

Perjumpaan Kembali

Suara rintikkan hujan terdengar samar-samar dari jendela rumah tua di perbatasan kota. Rumah yang menurut masyarakat sekitar tidak berpenghuni…. Derap langkah kaki orang yang beranjak mendekati rumah itu terdengar samar-samar dibalik tirai hujan yang menghalangi. Langkahnya terdengar sedikit tergesa-gesa. Setelah memastikan sekelilingnya, tubuhnya masuk dan segera menutup pintu dengan perlahan.

“Akhirnya, kau kembali juga Rob!” cetus seorang wanita muda dengan angkuhnya. “Kukira kau masih memiliki rasa malu untuk kembali kesini setelah gagal di tugasmu. Bukan begitu?”

Robston berlalu tanpa mempedulikan ocehan wanita itu. “Bersikaplah lebih hormat padanya, Mika. Setidaknya, dia membuktikan dirinya berguna bagi kita sekarang.” Ujar seorang pria yang terlihat lebih berwibawa diantara mereka. “Apa ada informasi baru, Rob?”

Robston tersenyum mendengar pembelaan tuannya. “Ada sedikit informasi yang kudapatkan di labolatorium Mrs Hilmer mengenai keberadaan negri Pegasus.” Sahut Rob hormat. “Kami menemukan berkas-berkas ini dilaci kerjanya. Ditulis dalam sandi yang sedikit sulit diterjemahkan. Kalau Tuan mengizinkan, saya bersedia mencari tahu.” Rob menawarkan jasanya.

Pemimpin mereka menggeleng tegas. “Tidak perlu kau buang waktu untuk hal seperti ini. Biar kusuruh Mrs Hilmer langsung membacakan isi dari berkas ini. Kurasa, dengan sedikit ancaman, dia mau membantu kita. Apa hanya itu?”

Rob mengeluarkan kotak dari sakunya. “Benda ini bereaksi saat aku mendekatkannya dengan pencari jejak batu negri Pegasus. Kurasa, benda ini akan sedikit berguna.”

“Bagus. Kau membuat kami merasa terbantu dengan pengabdianmu selama ini. Tapi harusnya Dragon bersamamu, bukan?” sahut Mika tajam dan sedikit menyindir.

“Maaf, tapi kami mendapat sedikit masalah saat berada di kediaman keluarga Hilmer. Saat itu kami secara tidak sengaja bertemu dengan putri Mrs Hilmer. Tapi bisa kami atasi dengan kemampuan menghilangkan ingatan Dragon. Kurasa, tidak akan terjadi hal buruk.” Ujar Rob.

“Putri Mrs Hilmer? Menarik. Kita bisa memaksa Mrs Hilmer bekerja sama dengan dalih putrinya. Siapa nama putri tercinta Mrs Hilmer?” sahut pemimpin mereka tenang.

“Erica. Kurasa namanya Erica. Saat kami menghilangkan ingatannya tentang kami, sebelum jurus itu berhasil dilakukan Dragon, seorang temannya memanggilnya. Jadi, jurus itu belum berhasil sepenuhnya. Kami benar-benar minta maaf” ujar Rob lagi.

Mika mendengus kesal. “Apa yang kau lakukan, hah? Kalau memang mereka tidak sempat melihatmu, bukan berarti mereka tidak menyadari kehadiranmu. Ketua, sekarang kita harus segera bertindak! Setidaknya, mereka mengetahui keberadaan orang-orang yang mengganggu mereka, bukan?”

Orang yang disebut ketua itu berfikir sejenak. “Kau yang ahli dalam hal ini, Mika. Kuserahkan mereka padamu. Bawa mereka hidup-hidup. Kita akan memanfaatkan mereka untuk bernegosiasi dengan Mrs Hilmer.” Perintah ketua membuat Mika tersenyum lebar.

Kemudian dia melangkah ke pintu dan melempar pandangan sinis ke arah Rob. Mengambil jubah dan peralatan bertarungnya, hingga sosoknya menghilang dari balik pintu. Rob menatap punggung Mika yang berlukiskan kalajengking. Kalajengking yang sedang mencapit mangsanya. Dengan darah disekitarnya.

***

Erica, Elie dan Billy pergi ke desa Siberia untuk melihat Vila yang ingin di beli Mr Hilmer. Suasana pedesaan yang sejuk membuat mereka nyaman seketika. Keluarga William merasa lega karena semenjak kedatangan Erica dan Billy, Elie menjadi lebih sering tersenyum. Tidak lagi menjadi anak yang suram.

“Keadaannya masih bagus dan mendukung sekali. Letaknya juga sangat strategis dan indah. Saya yakin ini akan menjadi aset yang sangat berharga. Tirai-tirainya walau sudah tua masih terlihat…..” dan bla bla bla. Pembicaraan seputar Vila langsung menyita perhatian orang dewasa.

Erica, Elie dan Billy menyingkir dari kerumunan orang dewasa. Dan mereka memilih keluar untuk menikmati panorama pedesaan yang tidak akan mereka temui di kota. “Aku punya seorang teman disini. Mungkin dia mau membantu kita untuk berkeliling, teman-teman.” Ujar Elie.

Erica dan Billy merasa sangat senang. Kemudian Elie mengajak mereka ke sungai. Erica berjalan mendahului. Billy dan Elie berjalan beriringan. Dan mulai berbincang.

“Kufikir kau orang yang menyebalkan sekali, Bil” ujar Elie jujur. Billy tersenyum kecil.

“Aku tahu kelakuanku saat kita baru bertemu kemarin sangat menyebalkan sekali, ya?” Billy membalas ucapan Elie. Elie hanya menatap Billy tidak mengerti. “Yah…. Anggap saja kelakuanku itu hanya sebagai bonus perkenalan kita. Aku sangat kesal padamu saat kau bertingkah kasar pada Erica.”

Elie menatap Billy penuh makna. “Kau menyayanginya?”

“Tentu saja. Dia orang yang mengajarkan banyak sekali hal baru padaku. Dia yang memberikan aku kesempatan untuk tinggal dirumahnya. Walau sikapku padanya terbilang kasar, tapi aku sangat mengaguminya.” Billy berucap dengan mata menerawang jauh.

Sepersekian detik, Elie menundukkan kepalanya. “Aku masih tidak mengerti kenapa semua orang sepertinya menyukai Erica.” Billy terlihat terkejut dengan ucapan Elie.

“Dari mana kau mengetahuinya? Kau baru mengenalnya, kan? Kenapa kau tahu semua orang menyayangi Erica?” serbu Billy. Beberapa detik Elie terdiam. Tapi kemudian mengangkat kepalanya kembali.

“Hanya feeling. Apa aku salah?”

Billy menggeleng kuat. “Tidak. Itu benar, kok.”

Elie tersenyum manis. “Aku tidak mengerti kenapa Erica begitu gencar mendekatiku? Padahal aku sudah sejahat itu padanya. Menurutmu bagaimana?”

Billy memasukkan tangannya ke dalam saku celananya. “Erica memang aneh. Dia banyak melakukan hal-hal yang tidak biasanya dilakukan oleh anak seumurnya. Aku juga tidak mengerti. Tapi selama ini, keputusan yang dia ambil selalu tepat. Jadi kau tak perlu khawatir.”

Erica berbalik dan menatap curiga pada Billy dan Elie. Lalu berlari mendekati mereka. “Hey El. Kau baik-baik saja?” kemudian Erica menatap selidik pada Billy. “Kau tidak mengatakan hal yang menyakitinya, kan?” Erica berkata sembari menarik lengan Elie ke arahnya.

Billy mencibir. “Aku sudah tidak tertarik untuk mengganggunya.” Kemudian, Billy beranjak berjalan terlebih dahulu. Sampai akhirnya, seseorang memanggil Elie dari belakang.

“Elie?” Elie menoleh. Raut wajahnya seketika berubah ceria.

“Hey, Peter. Lama tidak bertemu.” Sapa Elie ramah.peter terlihat sedikit terkejut.

“Wow! Satu tahun tidak bertemu, banyak perubahan pada dirimu, El.” Aku Peter jujur. “Well, kau terlihat lebih cerah.” Elie tersipu mendengar pujian Peter.

“Hello. Siapa dia, Elie?” Erica menyadarkan mereka mengenai keberadaannya dan Billy di dekat mereka. Peter tersenyum melihat Erica. Postur tubuh yang gagah dan wajah tampan Peter membuat Erica sedikit memperhatikannya. Terlebih…. Dia terlihat… sedikit liar.

“Hey, aku Peter, teman Elie. Kalau boleh kutebak, kalian datang dari kota, kan?” Peter mengulurkan tangannya.

Erica membalasnya. “Aku Erica. Sepupu Elie dari Washington. Salam kenal.” Mereka berjabatan agak lama.

“Memang sudah sewajarnya, ya. Gadis cantik memiliki saudara yang tak kalah cantiknya.” Erica tersipu mendengarnya. Perbincangan mereka terpotong dengan ucapan Billy.

“Aku Billy, teman yang satu rumah dengan Erica.” Billy sedikit mempertegas ucapannya disertai dengan sedikit deheman. Erica melepas genggaman tangannya.

“Oh, akhir pekan yang menarik aku memiliki teman baru seperti kalian.”

“Sudahlah, Pet. Kau bisa menggombal lagi nanti. Sekarang, temani kami ke sungai. Ok?” Peter mengangguk setuju.

Mereka berjalan beriringan menuju sungai yang terletak tepat dibawah bukit tempat vila Elie berada. Ketika air sungai yang jernih itu sudah terlihat, Peter segera berlari menuju das, tumpukkan bebatuan unik yang membentuk kursi panjang. Disana, anak laki-laki meletakkan pakaiannya untuk menceburkan diri ke air.

“Tomy!! Aku kedatangan teman. Cepat keluar.” Peter berteriak ke arah air. Beberapa saat kemudian, keluarlah seorang remaja seusia mereka yang terlihat sedikit kumal karena Lumpur.

“Kenapa sih, Pet. Aku baru saja bermain di laguna.” Tomy sedikit protes.

“Laguna?” Elie, Erica dan Billy bertanya bersamaan.

“Taman kecil yang kami buat didasar sungai.” Erica sangat takjub mendengarnya. Tomy keluar dari air dan mengeringkan tubuhnya. Cowok itu mengenakan pakaiannya. Sesuatu yang lebih mengejutkan, cowok yang sepintas terlihat cool itu mengenakan kacamatanya yang berlensa sangat tebal.

Erica dan yang lainnya duduk di tepi sungai diatas das yang berukuran kecil. Saat Tomy sudah bergabung dan saling mengenalkan diri, mereka mulai akrab dengan memulai perbincangan mengenai hal yang tadi sempat membuat mereka bingung setengah mati.

“Bagaimana kalian membangun laguna yang seharusnya tercipta secara alami? Apalagi, setahuku, laguna hanya berada di laut dan dijadikan tempat tinggal ikan, kan?” Erica memulai rasa penasarannya.

Peter tersenyum. “Ini semua idenya, Er” Peter melirik kearah Tomy yang masih sibuk mengeringkan rambutnya dengan handuk.

“Aku hanya ingin membuat penduduk di desa ini lebih nyaman dengan penemuanku saja. Salah satunya laguna itu.” Erica tercenggang mendengar perkataan yang disampaikan Tomy dengan sangat santai itu.

“Penemuan? Kau masih SMA, kan?” Erica kembali angkat suara.

Tomy menggeleng. “Seharusnya memang iya, tapi aku selalu loncat kelas. Jadi tahun ini aku sudah lulus kuliah sarjana teknik.” Benar-benar mengagumkan.

“Benarkah? Hebat sekali! Lalu, apa saja yang sudah kau temukan?” kini Elie terlihat sangat berminat dengan perbincangan Tomy.

Tomy masih berfikir, seolah-olah begitu banyak yang ditemukannya hingga membuatnya sedikit lupa. “Hmm, penemuan terbaruku sih masih sederhana. Kincir multifungsi disana juga rancanganku.” Erica mengalihkan pandangan ke arah mata Tomy menunjuk. Sebuah kincir raksasa terpampang kokoh di sebelah air terjun yang turun di kiri Erica. Sungai ini merupakan air yang dialirkan oleh air terjun kecil disana.

“Bagaimana sistem kerjanya?” Billy angkat bicara.

“Simple saja. Pada siang hari, kincir itu berfungsi sebagai kincir angin biasa untuk mencegah tekanan air terjun yang terkadang sangat tinggi. Juga membuat aliran sungai ini mengalir tenang. Pada malam hari, kincir itu akan memanjang dan berada tepat dibawah air. Sistem pergerakan kincir yang teratur membuat tenaga listrik. Pada malam hari, kami terbiasa menggunakan kekuatan kincir itu daripada listrik pada umumnya.” Erica, Elie, dan Billy tercenggang mendengar penuturan Tomy.

“Selain itu, pada tangkai besi kincir terdapat batuan sejenis zircon yang bersinar ketika cahaya bulan mengenainya. Sinar tersebut berwarna-warni. Indah sekali. Entah darimana Tomy mendapatkan batuan itu.” Kini Peter menambahkan.

“Aku hanya menggunakan batuan yang kandungan kristalnya tidak beraturan hingga menimbulkan efek cahaya. Tidak perlu berlebihan, Peter.” Tomy sedikit risih mendengan tatapan takjub Erica dan yang lainnya.

“Ini energi masa depan, Tom! Benar-benar mengejukan. Anak seusiamu bisa menciptakan penemuan sebesar ini. Hebat!” puji Erica tulus. Tomy tersenyum miris.

“Tapi aku tidak ada minat untuk mempublikasikannya.” Tomy berkata tiba-tiba.

“Kenapa?” Elie bertanya heran.

“Banyak konsep yang belum matang dalam penemuanku. Terlalu beresiko untuk dicoba.” Mereka hanya mengangguk mendengarkan penjelasan Tomy.

Mereka mengobrol mengenai hal-hal ringan seperti rutinitas mereka sekolah, atau mengenai klub atletik Erica dan Billy, hingga suatu perbincangan, membuat mereka terlibat pada situasi tegang. Ketika Elie mulai merengek pergi ke hutan.

“Apa kau serius, El?” Peter berucap dengan nada kecemasan.

“Memang kenapa? Aku juga ingin kesana. Di kota, kami tidak bisa menikmati kesejukan seperti disini….” Erica ikut membela keinginan Elie.

Tomy dan Peter saling berpandangn sejenak. Tatapan mereka terlihat kacau. “Maaf, tapi kepala desa melarang kami mendekati hutan itu.” Tomy berkata dengan lugas.

Erica mengernyitkan kening. “Kenapa?”

“Hm…. Hutan itu sangat berbahaya. Lebih baik jangan dekati hutan itu.” Peter ikut mendukung Tomy.

“Berbahaya? Tapi tahun lalu kita masih kesana, Pet. Tidak ada apa-apa waktu itu.” Elie mempertegas.

“Itu dulu, El. Sekarang kejadiannya sudah berbeda. Lebih baik jangan dekati hutan itu.”

“Hey. Sebenarnya apa yang terjadi. Kalian menyembunyikan sesuatu dari kami.” Billy memilih berbicara dengan santai. Erica dan Elie juga terus membujuk hingga akhirnya Peter menyerah.

“Baiklah, kami akan menceritakan kejadian yang akhir-akhir ini meresahkan rakyat.” Peter akhirnya menyerah.

“Tapi kepala desa melarang kita menceritakannya pada siapa pun. Terlebih pada wisatawan seperti mereka.” Sergah Tomy resah. Dia tidak mempercayai Erica, Billy dan Elie.

Peter terdiam. “Ayolah, Tom…. Ceritakan pada kami. Mungkin kami bisa membantu?” bujuk Erica. Tomy menatap mata mereka satu per satu. “Kami berjanji tidak akan menceritakan pada siapapun. Janji.” Tegas Erica lagi.

“Kalau tidak diberi tahu juga tidak apa. Kami akan mencari tahu sendiri kesana.” Ancaman Billy terbukti ampuh. Tomy langsung melotot kaget.

Tomy menatap Peter sebentar. Peter mengangkat bahu. “Kuserahkan ini padamu, Tom.” Tomy menarik nafas panjang.

“Karena hutan itu hutan sihir.” Tomy berbicara dengan perlahan.

“Hutan sihir??!” mereka bertiga berbicara dengan keras hingga Peter dan Tomy menyuruh mereka diam. Tomy menatap sekelilingnya penuh curiga. Matanya berkeliat cepat pertanda resah.

“Siapapun yang kesana, akan mendapatkan ganjaran seperti luka. Bahkan ada yang sampai meninggal. Karena itu lah, kepala desa kami melarang siapa pun untuk mendekati hutan itu.” Tomy meneruskan ceritanya.

“Mereka diserang hewan buas?” Billy bertanya penasaran. Erica mendengarkan dengan seksama. Sedang Elie menggenggam tangan Erica ketakutan.

Peter menggeleng. “Semula kami mengira seperti itu. Tapi Aku melihatnya sendiri. Saat kuda hitam bersayap dan bermata merah menghadang aku dan beberapa penduduk desa yang sedang berburu dihutan. Hewan aneh itu meringkik marah. Dia menghentak-hentakkan kakinya ketanah. Bumi serasa bergoncang. Padahal tempat kami tidak pernah gempa sama sekali” papar Peter.

“Tunggu dulu! Kuda hitam bersayap maksudmu? Pegasus? Mana mungkin ada Pegasus didunia ini. Itu hanya hewan dongeng!” Erica membantah. Erica mengetahui beberapa hal menenai Pegasus dari cerita yang didengarkannya dari ibunya, itupun bukan dari buku-buku non-fiksi atau ilmiah, tapi dari buku dongeng penghantar tidur.

“Tapi begitulah kenyataannya.” Tomy membalas ucapan Erica. Entah mengapa, sinar wajah Billy berubah.

“Kemudian, suasana hutan kembali mencekam. Suara-suara hewan terdengar tidak terkendali. Mereka seperti lari dari sesuatu. Saat kami ingin lari, beberapa hewan ganas lain datang….. dan menyerang…. Aku lari…. Lari ke arah air, dan menenggelamkan diri disana. Aku tahu hewan yang mengejarku tidak bisa berenang, karenanya aku nekat.” Peter menceritakan pengalamannya tanpa beban. Apalagi takut.

“Lalu? Kau selamat?” Elie memberanikan diri bertanya.

“Seperti kalian lihat” Peter menunjukkan tubuhnya yang sehat. Kemudian, wajahnya kembali murung. “Tapi…. Penduduk yang bersamaku lenyap. Hilang begitu saja. Kalau pun mereka tewas diserang hewan buas, pastinya jenazah mereka ditemukan. Tapi mereka hilang tanpa bekas.”

“Sebagian hilang, dan sebagian meninggal. Itulah yang menyebabkan kami takut kesana lagi.” Aku Peter.

Semua mata tertuju pada Tomy. “Aku tidak tahu alasan mereka hilang. Tapi yang jelas, sesuatu yang berbahaya menanti disana. Kini, penduduk tidak ada yang berani mendekati hutan sihir itu.” Tomy mengungkapkan argumennya.

“Tapi kenapa kalian merahasiakan kebenaran ini dari wisatawan?” Billy berkata dengan sedikit serak. Erica memperhatikan Billy sebentar. Ada yang aneh dengan Billy.

“Kami tidak ingin mengambil resiko untuk mengatakan kenyataan ini. Wisatawan bisa dengan nekat membuktikan berita ini. Kalau sampai berita ini menyebar melalui media, akan semakin banyak turis yang datang. Dan akan semakin banyak juga manusia yang hilang. Lebih baik merahasiakannya agar keberadaan hutan tidak terlalu mencolok.” Tomy menjelaskan.

“Tapi bagaimana jika ada wisatawan yang tidak mengetahui mengenai perihal ini, dan mencoba untuk kesana? Seperti kami tadi?” Erica tampak tidak setuju dengan pemikiran Tomy dan penduduk desa ini.

“Letak hutan itu sangat terpencil di sebelah utara desa ini. Kalaupun mereka mengetahui keberadaan hutan, mereka akan mengurungkan niat untuk masuk kedalamnya, karena sudah kupasangi hologram yang cukup membuat keberanian mereka menciut.” Tomy menunjukkan lagi kejeniusannya.

“Baik. Mungkin tidak sekarang. Tapi kami pasti akan mencoba kesana.” Billy mengambil kesimpulan. Erica mengawasi Billy sedari tadi. Dia melihat…. Tatapan mata Billy tidak terfokus. Menerawang.

Tomy dan Peter spontan melotot mendengar perkataan Billy. Entah karena tidak menginginkan perdebatan atau perlawanan, Billy berdiri dan beranjak pergi. “Bil. Mau kemana?” cegah Erica.

“Vila. Aku mengantuk sekali.” semua menarik nafas lega karena ucapan Billy. Mereka mengira Billy akan benar-benar melakukan ancamannya. Kemudian mereka melanjutkan perbincangan mengenai hal-hal ringan lainnya tanpa Billy. Tapi Erica, masih menyimpan seribu tanda Tanya mengenai sikap Billy yang mendadak aneh menurutnya.

Tapi tidak berlangsung lama. Erica memilih untuk melupakan ekspresi Billy tadi. Sebisanya.

***

TO BE CONTINUE….

Tidak ada komentar: