Kamis, 06 Maret 2008

BAB II

Kelompok Pembunuh SCORPION

3 TAHUN KEMUDIAN…

“Fall” teriak pelatih ditengah pertarungan Billy dan Erica. Erica jatuh terjerembab ditangan Billy. “Cukup, Billy. Latihan kali ini kita akhiri lebih awal. Ada pembicaraan penting mengenai turnamen atletik tingkat wilayah timur yang akan diselenggarakan 3 minggu lagi. Mohon perhatiannya!”

Seluruh anggota klub atletik segera berkumpul tanpa instruksi lebih lanjut. “Latihan khusus untuk menghadapi turnamen atletik ini sebenarnya hanya dikhususkan pada team senior saja. Tapi kali ini ada perbedaan. Karena pihak sekolah dan panitia penyelenggara juga menginginkan adanya perwakilan dari team junior, maka sekolah kita pun akan mengirimkan wakil dari team junior untuk ikut serta dalam turnamen akbar ini. Mulai besok, dengan bimbingan pelatih Richard dan arahan dari team senior, kalian akan mengikuti latihan itu. Karenanya berusahalah dalam tahap seleksi ini. Seleksi ini tidak memandang stratifikasi kelas, jadi team senior juga merupakan saingan kalian. Berusahalah lebih giat, terutama bagi Erica dan Billy. Kemungkinan besar kalian akan ikut dalam turnamen itu jika prestasi kalian tidak menurun nanti. Sekian”

Erica melangkah dengan gontai. Mengenai pembicaraan tentang turnamen itu. Sedikit ada keraguan kalau dirinya bisa bertahan menjadi calon kandidat peserta. Mungkin Billy dapat mengikuti turnamen itu. Yah… Billy memang juara dalam kelas junior. Sedangkan dia, hanya menempati tempat persis dibawah Billy tiap tahunnya. Runner up. Benar-benar mengesalkan.

“Hey Er, mau pulang bersama?” tiba-tiba Billy mengagetkan dari belakang.

“Billy, sudah kukatakan berapa kali padamu. Jangan suka mengejutkanku seperti tadi. Mau mati rasanya kalau kau melakukannya lagi!” cetus Erica kesal. Billy tersenyum jahil.

“Maaf, aku hanya ingin membicarakan sesuatu padamu. Kurasa kita bisa membicarakannya dengan rileks kalau pulang bersama, bagaimana?” ajakan Billy langsung dijawab deheman kecil sebagai isyarat setuju.

“Tidak seperi biasanya kau mengajakku bicara dengan formal. Biasanya kau kan selalu membuatku jengkel.” Cibir Erica. “Baiklah. Apa yang ingin kau bicarakan sebenarnya?”

“Begini, apa kau masih ingat awal pertemuan kita?” Billy memulai dengan pertanyaan.

Erica mengernyitkan kening, “Iya, memang kenapa.” Terlihat wajah Billy sangat senang sekarang. “Kau ditemukan Papa berada di Labolatorium milik Mama. Diruang bawah tanah. 3 tahun yang lalu…” ingat Erica.

“Pada bulan apa kau menemukanku, Er? Apa saat itu aku memegang sebuah batu berkilauan berwarna biru?” Billy menanyakan hal yang aneh menurut Erica.

“Kalau tidak salah kau kami temukan pada musim hujan dibulan Oktober. Aku ingat betul karena hari itu Papa sedang mengurus penutupan Lab itu. Memang kenapa kau tiba-tiba menanyakan hal itu?” kini Erica yang terlihat ingin tahu.

“Lalu mengenai batu berwarna biru? Apa kau melihatnya? Atau kau menyimpannya sekarang?” sahut Billy tanpa mempedulikan pertanyaan Erica.

Erica menggeleng kuat. “Kurasa aku tidak pernah melihat batu yang kau ceritakan itu.” Kini wajah Billy terlihat lesu sekali. Muram diwajah Billy seolah dapat dirasakan oleh Erica. Kini Billy menggumamkan sesuatu yang Erica tidak mengerti. Sesuatu yang terlihat janggal untuk ditelaah.

“Ternyata sudah satu tahun…”

***

Berkali-kali Erica memikirkan tentang Billy. Banyak hal dalam kehidupan Billy yang tidak diketahuinya. Hanya mengenai orang tuanya yang telah tewas saat terjadi perampokan saja yang Erica tahu. Hanya itu. Tidak lebih dari itu. Erica selalu merasa ada bagian dari kehidupan Billy yang misterius. Sesuatu yang sangat pribadi…

Sesuatu yang selalu dirahasiakan dan ditutupinya… Entah apa itu. Baru kali ini Erica merasa lebih dekat dengan Billy. Walau mereka belum pernah akur dan bicara baik-baik mengenai diri mereka masing-masing, tapi mereka merasa sudah saling mengenal.

Erica beranjak ke ruang keluarga. Diputuskannya untuk menjernihkan pikiran dengan menonton televisi. Digantinya chanel TV, mencari saluran berita.

“Dini hari, terjadi perampokan berlian senilai 2 milyard rupiah di sebuah toko perhiasan terkenal Marina. Perampok yang mengakui diri mereka berada dalam sebuah organisasi pembunuh Scorpion, berhasil melukai anak dari pemilik toko Marina tersebut. Telah dikatakan sebelumnya, bahwa toko tersebut telah menyediakan banyak perangkap dan alarm bagi orang yang berniat mencuri, tapi kali ini sama sekali tidak tertinggal jejak untuk di lacak. Pihak polisi menduga ini bukanlah pencurian biasa. Melainkan sebuah gertakan yang mungkin akan dilakukan sekawanan perampok tersebut. Sampai saat ini pihak rumah sakit yang menangani cedera yang dialami oleh anak pemilik toko belum dapat menganalisis penyebab cedera yang dialami anak tersebut. Kini anak tersebut terlihat malang dalam keadaan koma,”

Erica terpaku mendengar berita tragis yang dilihatnya. “Dan bagi pemirsa sekalian diminta untuk waspada apabila melihat lambang ini dan melaporkan hal ini pada pihak polisi terdekat tanpa mengambil resiko untuk menghadapinya sendirian. Karena menurut para polisi, organisasi yang mereka katakan adalah suatu organisasi illegal yang sangat berbahaya, karena diketahui, kelompok ini adalah kelompok legendaris Scorpion yang merupakan penjahat kelas atas pada abad ke-19,” pembawa berita tersebut segera mengundurkan diri.

Layar dihadapan Erica kini tertutup dengan potongan sebuah kain yang berukir lambang yang amat mengerikan. Sebuah lambang yang membuat setiap orang bergidik saat memperhatikannya. Sebuah lambang yang bergambar kalajengking dan darah disekitarnya. Bukan gambar yang menyenangkan untuk dilihat. Apalagi untuk dikenakan.

“Sedang menonton apa, Er? Boleh aku bergabung? Sepertinya mengenai berita kriminal ya?” kejut Billy dari belakang.

“Yah, begitulah… berita kriminal terkejam yang pernah kudengar. Baru kali ini ada penjahat yang melukai bahkan hampir membunuh korbannya dengan memamerkan kejahatannya pada public. Benar-benar mengerikan… apa menurutmu mereka hanya bergurau, Bil?” Erica langsung mengarahkan pembicaraan kepada masalah yang baru saja didengarnya tadi.

Billy terlihat berfikir sebentar. “Apa ,menurutmu selama ini ada penjahat yang merelakan identitasnya dibongkar orang lain? Kurasa bahkan orang terbodoh sekalipun akan berusaha menutupi tindak kriminalnya. Kau tahu, kan? Hukum pidana dinegri ini cukup berfungsi untuk menghalau penjahat macam mereka. Tapi kasus kali ini, sungguh baru kali ini kutemukan. Mengakui kejahatan mereka dihadapan media massa. Jadi, tak ada alasan bagi mereka untuk membuat lelucon yang tidak lucu seperti ini,” Billy langsung mengutarakan pendapatnya dengan jelas.

“Begitu, ya… tapi bukannya kejam, kalau membongkar identitas mereka setelah melakukan rencana pembunuhan. Apa bukan berarti mereka menyatakan kalau mereka bisa melakukannya lagi pada orang lain?” Erica berbicara tanpa menatap mata Billy.

“Kau kenapa, Er? Kau terlihat sangat kacau sekarang.” Billy bertanya penuh perhatian. Erica segera mengelak. Terlihat kacau? Seperti itukah dia dimata Billy sekarang ini?

“Ah, sudahlah. Aku ke kamar dulu. Banyak tugas yang harus kuselesaikan,”

“Mau kubantu?” Billy menawarkan jasanya kini.

Erica menggeleng lemah, “Tidak perlu, terimakasih.” Erica berusaha menghindari pembicaraan yang mungkin akan melibatkannya pada sebuah kejujuran yang selalu ditutupinya. Kini kepalnya dipenuhi pikiran dan bayangan mengenai sosok yang amat dirindukannya.

Mama…

***

Erica terjaga ditengah malam. Erica beranjak ke dapur untuk mengambil minum. Saat dirasanya cukup air itu membasahi kerongkongannya, Erica beranjak menuju kamar. Sudut matanya menangkap pintu menuju ruang bawah tanah, tempat labolatorium Mrs Hilmer terbuka. Seingatnya, pintu itu telah ditutup rapat.

Untuk mengusir rasa penasarannya, Erica memutuskan untuk memeriksa. Dilangkahkannya kaki dengan berat menuju ruangan itu. Ruangan yang selama ini selalu dihindarinya. Karena hanya mengingatkannya pada sosok orang yang menurutnya telah membuangnya.

Dibukanya pintu lab dengan sangat perlahan. Persis seperti 3 tahun yang lalu, pintu masih berdecit kecil, aroma peralatan lab masih sama seperti dulu. Hanya saja lebih berdebu. “Hello, apa ada orang?” Erica berusaha sebisanya untuk mengusir ketakutan dihatinya.

Secepat kilat, tanpa Erica sempat menyadari, sebuah tangan menyekapnya dari belakang. Menutup mulutnya dengan sangat kuat. Dapat dirasakannya bau darah yang tercium dekat. Erica diserang. Dia tidak dapat merasakan apapun. Seketika, tubuhnya ambruk ke lantai lab. Sebelum akhirnya benar-benar tidak sadarkan diri, Erica sempat mendengar beberapa orang berbicara. Salah satunya mengatakan hal yang benar-benar mengejutkan.

Kalimat yang sulit dipercaya oleh Erica. “Ternyata benar, dia putri Mrs Hilmer.”

***

“Er, Er, Erica, bangun, mau sampai kapan kau tidur? Benar-benar sulit ya membangunkanmu.” Erica membuka matanya dengan tergesa-gesa. Terlihat wajah jahil Billy berada disamping ranjangnya.

Erica bangkit dan menyentuh bibirnya. “Apa kau yang membawaku kemari, Bil?” Billy mengernyitkan kening, “Maksudku, kau membawaku kesini setelah menemukanku pingsan di lab. Diruang bawah tanah.” Jelas Erica.

Billy menggeleng kuat. “Tidak, mana mungkin aku menemukanmu di lab. Pintu lab kan sudah ditutup. Lagi pula orang sepertimu memangnya bisa bangun malam-malam hanya untuk pergi ke lab? It’s very impossible, kan?” jawab Billy dengan sedikit mengejek.

Erica terpaku sebentar. Tidak seperti biasanya Erica mau di ejek seperti itu oleh Billy. “Oya, hari ini ada latihan di klub senior, siap-siap saja kalah, ya..” sindir Billy sambil tertawa. Sedetik kemudian, sebuah bantal mendarat di wajah Billy, tepat dimulutnya.

“Bisakah kau keluar, dan biarkan aku mandi!” Erica mendorong tubuh Billy dengan kasar. Billy keluar, dibalik pintu, dia tersenyum lega.

Erica mempersiapkan dirinya untuk sekolah. Hari ini Erica mematut diri dikaca lebih lama dari biasanya. Wajahnya terlihat amat kacau. Erica menyentuh bibirnya, berusaha memastikan kalau tangan orang-orang itu tidak tertinggal disana. Apa kejadian semalam itu hanyalah mimpi? Semuanya, termasuk penyerangan terhadap dirinya yang dirasakan seperti nyata itu? Apa ada penjelasan mengenai hal ini semua? Penjelasan yang masuk akal. Juga mengenai ucapan mereka. Ucapan mereka yang mengatakan sesuatu.

Sesuatu tentang Mama…

Hanya satu kuncinya. Yah… ruang bawah tanah. Erica harus memastikan keberadaan ruangan itu sekarang.

***

Erica terpaksa mengendap-endap keluar sekolah untuk menghindari latihan yang amat didambakannya di klub senior. Kalau tidak segera dipastikan, hatinya tidak akan bisa tenang. Setelah berhasil melewati rintangan yang tidak terlalu berarti, akhirnya Erica tiba dirumah lebih awal.

Tanpa meletakkan peralatan sekolahnya terlebih dahulu, Erica bergegas ke sudut dapur, menuju pintu yang tersambung dengan lorong dan pintu rangkap dibagian lab. Cukup luas ruangan itu dibangun. Erica memutar kenop pintu. Terkunci. Apa kejadian semalam itu hanya mimpi?

Terpaksa Erica merusak kunci itu. Setelah beberapa saat, pintu pun terbuka. Erica berjalan menyusuri lorong. Hingga sampai didepan pintu lab, Erica kembali memutar kenop. Masih terkunci. Akhirnya Erica merogoh bagian bawah karpet didepan pintu, dan mengambil kunci duplikat yang sering ditinggalkan Mrs Hilmer untuk Erica. Bahkan Papa sendiri tidak mengetahuinya.

Dibukanya pintu, menyisakan derit pintu yang sedikit kasar. Sangat berbeda dengan keadaan yang dialaminya semalam. Erica masuk kedalam ruangan itu. Terlihat sedikit berdebu. Beberapa kali, disentuhnya peralatan milik ibunya dengan rindu. Sesekali, terlihat bendungan air dipelupuk mata Erica. Nyaris ditumpahkannya.

“Sudah kuduga kau ada disini. Kurasa sesuatu terjadi padamu karena tidak seperti biasanya kau bolos latihan, bukan begitu?” Erica menoleh kebelakang. Billy berdiri di ambang pintu.

“Apa yang kau lakukan disini? Kalau aku bolos pun itu bukan urusanmu, kan? Berhentilah untuk menguntitku. Biarkan aku sendiri disini. Pergilah!” gertak Erica tajam.

“Aku juga terkadang merasa bosan latihan di klub itu. Aku tidak bermaksud menguntit. Aku juga ingin mengunjungi tempat aku ditemukan oleh ayahmu ini kok.” Jawab Billy sekenanya.

Erica mengalihkan pandangan. “Terkadang, seseorang bisa merasa perlu untuk mengenang masa lalu, kan?” Erica tiba-tiba mengucapkan kata-kata itu begitu saja.

“Kau berhutang penjelasan padaku, Er. Yah… kalau kau tidak mau menceritakan semua atau hanya sebagian saja masa lalumu yang selalu membuatmu seperti ini padaku, aku bisa mengerti, kok.” Billy menatap Erica yang mulai memainkan tangannya pada deretan gelas kimia. “Tapi ada baiknya kalau kau memulai untuk bisa percaya pada orang lain. Bukan untuk membongkar masa lalumu itu. Tapi cukup hanya untuk membagi beban yang kau rasakan. Setidaknya kita teman, kan?”

Erica nyaris menumpahkan air matanya di depan rival terbesarnya itu. Tapi untungnya dapat ditahan. Setidaknya dia tidak ingin menangis didepan Billy sekarang. Tidak untuk saat ini.

“Aku hanya ingin memastikan penyebab kepergian Mama bukan karena dia tidak mempedulikanku lagi. Aku hanya menginginkan bukti simple seperti itu. Sesuatu yang bisa menghilangkan keresahan yang kini berada dibenakku. Aku hanya membutuhkan bukti, Bill. Apa aku salah? Setidaknya kalau nanti Mama kembali, aku tidak perlu memusuhinya karena kekecewaan yang kurasakan bertahun-tahun ini.” Ungkap Erica jujur.

Billy terkesiap. Tidak pernah dilihatnya Erica begitu terpukul seperti ini. “Bagaimana kalau kita mulai mencari.” Usul Billy membuat Erica bingung, “Mencari bukti yang kau bicarakan itu. Aku yakin kita bisa menemukannya kalau mencari disini. Aku akan membantumu,” Erica terharu mendengar tawaran tulus itu keluar dari mulut rival terbesarnya itu.

Mereka mulai mencari. Memeriksa tiap sudut ruangan sampai kedalam lemari penyimpanan, dibagian bawah hiasan yang tergantung disana. Juga deretan lukisan yang berada disetiap dinding. Billy memeriksa bagian laci di meja yang menurutnya tempat bekerja Mrs Hilmer. Membongkar berkas-berkas yang tersimpan dengan sangat rapi disana. Dia masih belum tahu apa yang dapat dilakukannya untuk menolong Erica. Dia tidak tahu apa hal ini dapat membuahkan hasil.

“Apa yang kau lakukan disana, Bill?” Erica tersadar karena suara kertas yang begitu bising mengganggu telinganya. Kemudian dia spontan berteriak saat melihat apa yang Billy lakukan. “Mama selalu melarangku untuk membuka lacinya. Sebaiknya jangan kau lakukan!” larang Erica.

Billy, tanpa menoleh meneruskan pencariannya. “Aku yakin kita dapat menemukannya kalau mencari ditempat rahasia yang tidak pernah terfikir olehmu untuk mengeceknya, Er. Aku yakin bukti yang entah apapun bentuknya itu masih tertinggal disini. Aha! Apa ini?” Billy mengeluarkan sebuah kotak yang memancing Erica menuju tempat Billy.

Erica menatap kotak itu dengan takjub. Ukiran yang sangat indah dengan gambar kuda putih yang sangat anggun. Terpampang disana juga sebuah tulisan seni yang amat indah, bertuliskan: HARTA YANG TERLUPAKAN.

“Dimana kuncinya, ya?” Billy segera membongkar kembali laci itu, saat melihat sinar harapan dimata Erica. Tangannya gemetar seketika, “Apa-apaan ini?” Billy mengangkat sebuah bundelan kertas dengan cover gambar sebuah kalajengking dengan darah segar disekitarnya. Dibagian atas tertulis sebuah kalimat yang membuat mata Erica terbelalak lebar. Tulisan yang sulit dipercaya.

PERJANJIAN MRS HILMER DENGAN SCORPION.

***

Erica melangkah gontai. Hari Minggu yang seharusnya dilewatinya dengan santai sedikit berbeda sekarang. Akibat bolos latihan kemarin, sebagai hukuman, dia harus membersihkan ruangan klub yang berantakan.

Belum lagi kejadian kemarin yang membuat otaknya bekerja dengan sangat keras. Bundelan kertas yang ditemukan Billy kemarin, saat Erica memeriksa bagian dalam yang menurutnya isi dari surat perjanjian dengan kelompok pembunuh Scorpion itu, hanya berisi coretan yang sama sekali tidak membentuk tulisan.

Juga mengenai kotak itu. Tidak ada kunci untuk membuka kotak itu, dia sendiri tidak tahu apa kotak itu bisa memberikan petunjuk mengenai penyebab kepergian Mamanya. Berkali-kali Erica menguap tanda mengantuk. Jelas beberapa hal itu telah memicu jiwanya yang ingin tahu untuk berfikir. Dan otaknya benar-benar lelah sekarang.

BRUK!

Erica terjerembab jatuh. Dibukanya mata untuk melihat orang yang menabraknya. Seorang gadis cilik seusia dengannya terlihat kesakitan didepannya Erica bangkit dan segera mengulurkan tangannya, “Maaf, aku tidak sengaja menabrakmu.” Anak itu menerima uluran tangan Erica.

Erica tersenyum. “Terima kasih. Aku juga salah. Maaf.” Anak itu membungkuk dihadapan Erica. Erica tertawa kecil.

“Sudahlah, tidak perlu sungkan. Aku Erica. Siapa namamu?” Erica memperkenalkan dirinya. Anak itu terlihat sangat pemalu.

“Hey, Er! Kita harus cepat membersihkan ruangan klub hari ini.” Teriak Billy dari belakang Erica. Erica menoleh kearah Billy.

“Tunggu sebentar, aku ada urusan, Bil.” Teriak Erica, “Dia temanku…” ucapan Erica terpotong saat menoleh kearah gadis yang ditemuinya tadi. Gadis itu hilang. Cepat sekali.

“Ada apa? Kau bicara dengan siapa tadi? Tidak terlihat orang disini.” Tanya Billy. Erica menggeleng.

“Bukan siapa-siapa. Mungkin hanya perasaanmu.” Entah apa alasan Erica menyembunyikan pertemuannya dengan gadis misterius itu. Mata coklat gadis itu terlihat sayu dan terluka. Entah mengapa, Erica dapat merasakan kepedihan dimata gadis itu. Kepedihan yang sama dengan yang dirasakannya.

***

TO BE CONTINUE...........


Tidak ada komentar: