BAB I
Pegasus Land
Hamparan padang rumput di dimensi lain yang tepatnya berada bermil-mil jauhnya dari bumi. Seluruh kuda-kuda yang lelah mengepakkan sayapnya mulai digiring ketengah peternakan. Tempat yang sekilas saja dilihat bagai surga yang amat menakjubkan. Tapi sayang tidak se-perfect wujudnya.
Ditengah bukit, terdapat kastil yang mengawasi semua penjuru kerajaan. Suasana malam yang tenang, memperjelas perbincangan penghuninya. “Kenapa mama jadi keras kepala seperti ini sih? Kan sudah kubilang kalau semua keadaan baik-baik saja. Apa karena ramalan mentri gila itu Mama jadi cemas?!” sentak seorang bocah.
“Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan ramalan itu, Billy. Mama hanya merasa ada sesuatu yang janggal terjadi di kerajaan kita. Apa kau tau sesuatu?” selidik Ratu curiga. Anak yang dipanggil Billy menggeleng tegas.
“Ehm.. kurasa tidak, mungkin hanya perasaan Mama saja. Sepeninggal Papa, Mama harus mengurus semua hal menyangkut kerajaan seorang diri…” Jawab Billy menggantung, memastikan Ratu akan baik-baik saja mendengarnya, “Wajar kalau Mama sedikit kacau sekarang. Kurasa, keadaan akan baik-baik saja jika Mama tidak terlalu cemas dan mencoba berfikir jernih..” Ratu terdiam.
***
Di Bumi.
“Ma, aku punya satu impian yang sedikit mustahil terwujud. Menurut Mama… apa aku bisa menggapai mimpi itu?” Tanya seorang anak dengan antusias.
Sang Ibu hanya tersenyum, “Kau tahu, Erica? Keberhasilan menggapai mimpimu itu hanya bisa diukur dengan kekuatan yang kau miliki saat ingin menggapainya. Semua tergantung dari pengorbanan yang kau pertaruhkan.”
“Pengorbanan?” anak yang dipanggil Erica mengulang kata-kata Ibunya.
“Yah… setiap harapan yang kau perjuangkan pasti disertai dengan pengorbanan, tergantung kapasitas impian yang kau miliki. Semakin besar impian yang kau miliki, semakin besar pengorbanan yang harus kau berikan.” Jelas sang Ibu. Erica tersenyum mendengar kata-kata ibunya. “Memang, apa impianmu itu? Mama boleh tau?”
“Tentu aja. Aku mau kita bisa terus bersama seperti ini. Kalau begitu, pengorbanan macam apa yang harus kulakukan?” Erica bertanya dengan polos.
Sang ibu tersenyum getir, “Bagaimana kalau kau mencoba memperbanyak waktu dirumah. Dan kurangi bermain bersama teman-temanmu?” Erica tersenyum dan kemudian mengangguk dengan riang.
***
Tepat jam 11 malam.
Seluruh aktrivitas di negri Pegasus terhenti dan semua warga kerajaan beristirahat. Ditengah keremangan malam, sosok Billy mengendap-endap keluar dari kamarnya. Seorang diri dia menerobos hutan di selatan desa dengan tudung hitam untuk menyembunyikan sosoknya.
Sampai di suatu tempat dimana berdiri bangunan kokoh bergaya eropa dengan dominan warna putih dan hijau. Rumah itu seolah menyatu dengan peternakan yang hijau.
TOK TOK TOK
Billy mengetuk pintu dengan sangat perlahan. Pintu berderit halus. “Oh… pangeran? Silahkan masuk,” sahut laki-laki separuh baya yang datang membuka pintu. Billy segera masuk dan melepaskan tudung yang menutupi tubuhnya.
“Maaf mengganggu, George. Tapi aku butuh bantuanmu” ujar Billy dengan tergesa-gesa.
George mengangguk mengerti, “Apa Ratu mulai curiga?” Billy duduk di sofa yang disediakan. Lalu mulai mendesah pelan.
“Untuk sementara dapat kuatasi. Tapi aku tidak tahu lagi jika lebih dari ini.” Desah Billy. George mengambilkan segelas teh hangat untuk Billy.
“Sepertinya kita harus lebih hati-hati dalam bertrindak sekarang ini. Kalau perlu, kusarankan agar pangeran menghentikan misi ini untuk sementara waktu…” Billy meneguk teh hangat itu dengan perlahan. “Saya tidak berniat lancang pangeran, tapi jika anda teruskan dalam situasi seperti ini, akan membawa hal buruk bukan saja bagimu. Juga bagi negri ini. Melakukan misi sendiri dengan tanpa persetujuan pihak kerajaan akan lebih mempersulit posisi anda,” saran George dengan sangat hati-hati. Agar tidak menyinggung Billy.
Billy masih terdiam, “Tapi aku ini pangeran. Apa keputusanku saja tidak cukup? Jika kita terus menunggu seperti ini, keadaan bukannya akan menjadi lebih baik, kan? Aku sudah memikirkannya dengan cermat, walaupun aku harus diusir dari negri ini karena kecerobohanku… tapi aku akan tetap menjaga negri ini dengan kemampuanku sendiri. Aku mencintai negri in, kau mengeti, kan?” sahut Billy pasti.
“Aku mengerti perasaanmu sekarang, pangeran. Tapi tolong jangan buat negri ini lebih terancam bahaya dengan kepergianmu. Kami membutuhkanmu sekarang.” Ujar George dengan tenang. Billy menatap keluar. Dia menarik nafas panjang. Begitu berat rasanya.
“Bagaimana dengan pembangunan terowongan antariksa yang kuperintahkan? Apa ada halangan?” Billy mengalihkan ke topik lain agar George tidak berusaha menghalanginya lagi.
“Sejauh ini perkembangan yang memuaskan tanpa ada rintangan berarti, Pangeran. Setelah 3 hari, terowongan itu akan segera selesai dan terhubung dengan 200 galaksi lain yang berada di jagad raya” jelas George.
Billy berdehem pelan, “George, apa kau tahu sesuatu tentang Bumi? Aku sedikit penasaran dengan planet itu. Dalam ilmu sejarah Pegasus Land yang kupelajari di sekolah, negri itu merupakan bagian dari negri Pegasus berabad-abad yang lalu. Apa itu benar?” Billy melirik kearah george. Terlihat gurat keterkejutan di wajah George.
“Pangeran tentu cerdas dalam menganalisa sejarah. Dalam sejarah mungkin ditemukan sesuatu yang berupa fakta dan karangan. Kau dapat menganalisanya dengan baik, bukan?” ujar George. Billy melihat kearah luar.
“Kau adalah salah satu orang kepercayaaan Istana dan orang yang terkena kekuatan magis pegasus legendaris milik ksatria pegasus. Karena kekuatan itu kau jadi tidak bisa mati, kau merupakan aset yang penting, aku harap kau tidak menyembunyikan sesuatu dariku... kau tahulah, aku akan menggunakan terowongan antariksa itu untuk menjelajahi jagad raya dan mencari tempat persembunyian Dark King beserta anak buahnya dan mencari partner bertempurku, princes lady. Dalam pencarian itu mungkin aku akan mendapat informasi yang berguna untuk dapat menyelamatkan negri ini dari ancaman Dark King.” Billy menghentikan ucapannnya, kemudian menarik nafas panjang “Dan tempat pertama yang kutuju, mungkin Bumi.”
George tersentak mendengar ucapan Billy yang terakhir. “Apa kau yakin dengan keputusanmu itu, Pangeran? Kurasa, kau tidak mengatakan alasan itu padaku saat menyuruhku membangun terowongan antariksa tanpa sepengetahuan Ratu. Maaf, tapi kalau kau berniat menggunakan terowongan antariksa hanya untuk melakukan penjelajahan konyol itu, aku sudah tidak bisa membantu anda lagi. Tolong pikirkan perkataanku ini baik-baik. Aku tidak main-main.” George berkata dengan tegas.
Wibawa yang George miliki tidak dapat dikalahkan siapapun, termasuk Raja pendahulu sekalipun. George, satu-satunya orang yang masih hidup dari awal terciptanya Pegasus Land. Siapapun tidak dapat menandingi kesetiaannya terhadap Negri Pegasus. Termasuk Billy sekalipun.
“Kau kenapa, George? Kau tahu? Semakin keras kau melarangku, aku justru semakin ingin melakukan misi ini walau ditentang banyak pihak. Aku ingin melindungi orang-orang yang kusayangi. Apa itu berlebihan? Sudah kukatakan padamu, walau aku harus menerima pengusiran dari IBUKU sendiri karena hal ini, aku bisa menerimanya asalkan negri ini selamat!” Billy menegaskan keputusannya.
Terlihat kemarahan diwajah George. Sedetik kemudian, tubuhnya yang besar berdiri dan menatap Billy lekat-lekat, seolah nyaris menelan Billy. “Jika sekeras itu keinginanmu untuk pergi ke galaksi lain dan meninggalkan kami disini dengan penuh ancaman, aku akan menghalangi kepergianmu sekarang walau harus mengorbankan nyawaku!!” George terlihat sangat menakutkan sekarang.
“George! Mengertilah. Aku akan pergi ke Bumi untuk kebaikan negri ini. Dan ini perintah!” balas Billy tak kalah keras.
“Meski kau Pangeran sekalipun. Aku akan tetap menghalangimu sampai titik darah penghabisan. “ George melangkah pergi. Billy meremas tangannya kesal.
“Baik! Aku juga tidak akan segan-segan menghadapimu jika kau bermaksud menghalangiku!” Billy melihat George yang tiba-tiba berhenti dan berbalik menatapnya.
“Kau tidak mengerti. Kau benar-benar tidak mengerti kalau yang kulakukan ini demi kebaikanmu sendiri. Kau akan menyesal karena tidak mendengar kata-kataku ini. Percayalah padaku,” George berkata dengan letih, Billy terpaku seketika. Saat dia sadar, sosok George telah menghilang dari pandangannya.
***
Erica berlari ditengah hujan yang menyembunyikan sosok tubuhnya dengan sempurna. Rasanya ingin cepat-cepat sampai sekarang. Pelajaran disekolah berakhir lebih awal, karenanya dia ingin cepat memberi tahu mengenai perjalanan wisata yang akan diselenggarakan sekolah pada ibunya.
“Ma, Erica pulang.” Seru Erica dengan riang. Rumahnya terasa sepi. Erica mengendap-endap perlahan. Kakinya melangkah kearah Lab di ruang bawah tanah yang khusus dibuat untuk eksperimen ibunya yang seorang ilmuan.
Erica membuka kenop pintu dan mulai melangkah masuk. Wangi peralatan Lab menyergapnya begitu tubuhnya dengan sempurna berada di ruangan itu. Ruangan itu terlihat sepi dan sedikit berantakan jika dibandingkan dengan Mrs Hilmer yang menjunjung tinggi kerapihan.
Pasti ada sesuatu yang memaksa Mrs Hilmer untuk pergi dengan tergesa-gesa tanpa sempat membereskan ruangannya itu. Sesuatu yang memaksanya meninggalkan ruangan itu dengan mengabaikan peralatannya sendiri. Sesuatu yang amat serius. Erica tahu betul ibunya.
Kecerdasan Erica mulai menganalisa kronologis kejadian sebelum kedatangannya sekitar lima menit yang lalu. Hal apa yang membuat Mrs Hilmer mengabaikan Lab nya tanpa mengunci apalagi membereskannya? Dan seberapa penting hal itu hingga membuatnya melanggar prinsip yang dimilikinya itu?
“Papa pulang.” Suara Mr Hilmer menyadarkan Erica kembali. Tanpa membuang-buang waktu, Erica keluar dan naik menyambut kedatangan ayahnya itu.
“Papa! Papa pulang cepat, yah? Apa kita mau makan diluar?” seru Erica senang.
Mr Hilmer tersenyum dengan penuh wibawa. “Tentu saja. Ini kan akhir pekan, sayang. Mana Mamamu?”
Erica menggeleng, “Entahlah, apa mama tidak mengatakan sesuatu pada papa mengenai jadwal kepergiannya hari ini? Aku sungguh tidak tahu kemana Mama pergi. Mama meninggalkan Lab dengan keadaan amat sangat berantakan” cerita Erica panjang lebar.
Mr Hilmer mengangguk, “Mungkin Mamamu ada keperluan mendadak hingga tidak sempat memberitahukannya pada kita. Tenanglah, sebelum larut, pasti Mama sudah pulang.” hibur Mr Hilmer
Sejak malam itu, Erica sudah tidak pernah melihat ibunya lagi. Entah apa alasannya, tapi Mrs Hilmer menghilang tanpa jejak dan kabar. Dan hal itu membuat Erica tenggelam dalam penyesalan yang amat teramat dalam. Entah sampai kapan dia sanggup menunggu lagi. Dia tidak tahu sampai kapan lagi dirinya sanggup bertahan. Bertahan dalam ketidakpastian seperti ini.
***
Semenjak hari itu, Billy menjaga jarak dengan George. Dia tahu George belum mengatakan apapun pada Ratu. Karena sampai saat ini Ratu masih belum menyadari mengenai misi rahasia yang direncanakan Billy dengan hanya melibatkan dirinya sendiri.
Sebelum hal itu terjadi, Billy harus segera pergi dengan terowongan antariksa untuk bisa pergi ke Bumi, tapi terowongan itu baru akan selesai besok. Billy sudah tidak bisa lagi menunggu. Dia yakin George akan mengatakan rahasia itu pada Ratu. Dan itu tidak boleh terjadi. Setidaknya sebelum dia pergi ke Bumi. Tidak ada seorangpun yang boleh menghalanginya.
Malam hari, Billy segera mengemasi barangnya. Dia bermaksud menyelinap ketempat pembangunan terowongan antariksa dilaksanakan. Dan pergi ke Bumi. Walau pembangunannya belum selesai sekalipun. Resiko ini jauh lebih kecil daripada harus berhadapan dengan pejabat istana yang lain.
“Kak, boleh aku masuk?” Sebuah suara mengagetkan Billy yang sedang berkemas. Keterkejutan jelas terlihat diwajah gadis yang berbicara itu saat melihat tingkah aneh Billy.
“Karin! Apa yang kau lakukan? Kau mengagetkanku!” sungut Billy berusaha bersikap wajar.
Gadis yang dipanggil karin itu melirik kearah capsul yang tidak berhasil disembunyikan Billy. “Kau tidak bermaksud kabur, kan?” tanya Karin tiba-tiba.
Billy berusaha bersikap wajar. “apa yang kau katakan, sih? Untuk apa aku melakukan itu. Aku tidak punya alasan untuk melakukannya.”
“Hah? Untuk apa? Untuk apa kau menyembunyikan capsul penyimpan itu di kantungmu? Kau pikir aku bodoh?! Katakan yang sebenarnya, kak. Atau kau ingin mengambil resiko kalau aku mengadu pada Mama?” ancam karin tegas.
“Baiklah. aku ingin ke Bumi. Puas, kan?” aku Billy akhirnya.
“APA??? BUMI?! KAU KONYOL!” Karin jelas terkejut bukan main.
“Aku tidah main-main. Aku benar-benar akan ke Bumi. Dan karena aku sudah jujur padamu, kuharap kau tidak bermaksud mengadukanku pada Mama. Setidaknya sampai aku pergi. Oke?” Billy berusaha membuat kesepakatan dengan karin.
Karin terlihat amat cemas. “Dengan apa kau akan pergi kesana? Kau pikir jarak negri Pegasus ke Bumi itu seberapa jauh? Walau memakai capsul waktu pun belum tentu kita akan sampai dalam waktu seratus tahun. Kau pikir apa yang ada dalam kepalamu, hah?” sahut karin kesal.
“Aku punya caraku sendiri. Dan itu tidak akan membahayakanku. Kau percaya padaku, kan?” Billy melanjutkan perkataannya dengan lugas. Dari wajahnya, terlihat Karin tidak sepenuhnya percaya pada Billy.
Billy berdiri. Dan menatap mata Karin lekat-lekat, “Berapa lama kau akan pergi?” tanya Karin sedih. Dia tahu ini perpisahan.
“Tidak akan lama. Kau harus percaya padaku kalau yang kulakukan ini demi kebaikan kita bersama. Kau satu-satunya orang yang harus percaya. Ku percayakan keselamatan negri ini padamu, Karin.”
Karin tergeletak seketika. Billy tidak mau seorang pun akan menghalanginya. Terpaksa dia membuat Karin pingsan. Secepat kilat Billy bersiul. Angin menderu menyakitkan. Sekejap, terlihat seekor pegasus jantan yang gagah berdiri dihadapan Billy.
Billy segera menaikinya. Dan melesat terbang. “Terbang dengan kecepatan tinggi kearah pusat kota, Gin!” perintah Billy cepat. Pegasus yang dipanggil Gin tanpa banyak bertanya segera melesat bagai petir dengan kecepatan yang menakjubkan.
Beberapa saat kemudian, Billy sampai di sebuah tempat yang terselubung kabut ilusi, tempat rahasia pembangunan terowongan antariksa. Terlihat tanda-tanda belum selesainya pembangunan ini. Billy sudah mempersiapkan diri mengambil resiko ini.
“Billy, apa yang sebenarnya kau lakukan disini? Apa kita masih lama?” tanya Gin penasaran.
Billy menengok kearah Gin. “Gin, dengarkan aku. Setelah aku masuk kedalam, segera kau pergi ke kandang pegasus dan jangan pernah pikirkan aku ada di mana. Oke? Setelah ini aku akan melakukan perjalanan yang amat panjang.” Billy mendesah perlahan, “dan aku sendiri tidak tahu kapan aku akan kembali, jadi jangan pernah pikirkan aku. Mengerti?” Gin terlihat cemas.
Billy melangkahkan kakinya ke terowongan saat sosoknya nyaris menghilang, Gin berteriak. “Bil, aku percaya padamu. Tapi kau harus berjanji satu hal padaku.” Billy menghentikan langkahnya dan menoleh. “Kembalilah dengan gagah dan... jangan mati.” Billy tersenyum getir.
“aku berjanji.”
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar