Senin, 10 Maret 2008

BAB V

Petunjuk Mengenai Scorpion

Tomy tidak bohong. Desa Siberia adalah desa yang sangat menawan dan mengagumkan. Banyak penemuan hebat luar biasa yang diciptakan Tomy. Erica bisa melihat, sepanjang mata memandang beragam cahaya kerlap-kerlip seperti bintang di langit seolah bertebaran di seluruh penjuru desa.

Kincir multifungsi yang diceritakan Tomy pun lebih menakjubkan daripada yang digambarkannya. Bukan hanya menimbulkan efek cahaya yang berpendar-pendar menerangi sepanjang aliran sungai, bahkan kincir itu memanjang seolah hendak membelah air terjun tepat di tengah-tengahnya. Putaran pada kincir menyemprotkan sedikit air terjun seperti turunnya air hujan. Hanya saja, air yang memancar berwarna-warni. Benar-benar indah.

Sepanjang desa disemarakkan beragam jenis lampion. Bentuknya pun unik. Bukan berbentuk hewan-hewan shio seperti biasanya, atau sejenis hiasan pajangan yang wajar. Tapi lampion ini terbentuk dari es yang mengkristal. Efek transparannya jadi terlihat alami dan indah. Warna lampionnya pun bukan hanya satu warna. Dalam satu lampion, dapat menghasilkan lima sampai sepuluh warna!

“Indah sekali ya….” Gumam Billy. Erica yang berada disampingnya saat sedang memandangi langit yang cerah dimalam hari, hanya berdehem menyetujui ucapan Billy. Mata Billy lagi-lagi menerawang.

“Hmm…. Seandainya saja seluruh dunia seindah ini…. Pasti akan sangat menyenangkan ya Bil?” Billy hanya tersenyum menanggapi ucapan Erica.

Erica menatap Billy sebentar, kemudian beranjak masuk. Billy hanya menatap Erica yang melangkah kedalam vila. Beberapa saat kemudian, Erica kembali. Dia meletakkan sebuah kotak dan lembaran yang ditemukannya di meja Mrs Hilmer beberapa saat lalu.

“Bagaimana dengan Scorpion, yah? Aku masih sangat penasaran dengan organisasi ini. Apa kau mengetahui sesuatu, Bil?” Billy menatap Erica bingung. Kemudian menatap mata Erica dalam-dalam seolah mencoba mengetahui semua yang berada dikepala Erica. Erica merasa risih.

“Kau ingin tahu?” Billy menyipitkan matanya. Berkata seolah dia mengetahui sesuatu. Erica mengangguk tegas. “Bagaimana jika kita menemui Tomy malam ini?” Billy tiba-tiba saja mengajukan usul yang aneh. Sepertinya kepala Billy selalu penuh dengan ide-ide yang tidak dimengerti oleh siapa pun.

“Untuk apa?” Erica langsung mengutarakan ke tidak mengertiannya. Billy tersenyum penuh kemenangan. Ditariknya pergelangan tangan Erica.

“Ikut saja!” Billy menyeret Erica. Erica sedikit kesulitan mengekori langkah panjang-panjang Billy. Setelah keluar dari serambi depan menuju perbukitan, mereka berpapasan dengan Elie dan Mrs William.

“Mau kemana kalian?” Tanya Elie ingin tahu.

“Ke rumah Tomy.” Sahut Billy pendek.

“Aku ikut, ya….” Bujuk Elie. sebelum Erica dan Billy mengangguk, Mrs William terlebih dulu angkat bicara.

“Elie, kau harus segera istirahat sekarang. Kau ingat pesan dokter, kan? Maaf ya, Erica, Billy, sepertinya Elie tidak bisa ikut dengan kalian malam ini.” Mrs William mengatakan ketidak setujuannya. Elie terlihat sedikit merengek.

“Ayolah, ma….. hanya sebentar saja. Lagi pula ada Erica dan Billy yang akan menjagaku. Benar, kan?” Erica mengangguk membenarkan.

Mrs William tetap menolak dengan tegas, Elie terpaksa tinggal di vila malam ini.

Erica mengedipkan sebelah matanya sebagai isyarat akan menceritakan semua yang dia alami di rumah Tomy. Elie sudah mengetahui maksud tujuan Billy dan Erica pergi, karenanya dia ingin sekali ikut. Karena masalah ini berkaitan dengan Scorpion, itu berarti berhubungan dengan ayah yang di bencinya…..

***

“Oh, kalian Erica dan Billy ya? Teman Elie dari California? Silahkan masuk. Kebetulan sekali Peter juga sudah berada di kamar Tomy.” Sapaan ramah Mrs Weakless disambut senyuman kecil oleh Erica.

Erica dan Billy langsung disuruh menuju kamar Tomy di lantai 2. “Sebenarnya untuk apa kita kesini, sih, Bil?” Erica sudah tidak tahan lagi.

Billy memberi isyarat diam. Sesampainya didepan kamar Tomy, mereka mendengar perbincangan Tomy dan Peter. Entah apa alasannya, mereka memutuskan untuk berdiam diri sebentar.

“Semua bukti sudah jelas dan mengarah pada mereka, Tom!” suara Peter. Entah apa yang mereka bicarakan hingga sepertinya suasananya sangat tegang.

“Kita tidak boleh sembarangan mengambil kesimpulan. Semua masih dalam praduga kita saja. Kuharap kau mengerti.” Tomy berusaha menjelaskan sesederhana mungkin. Tapi tetap saja Erica dan Billy yang sedang menguping tidak mengerti.

“Ahh…!!! Otakmu selalu saja penuh pertimbangan! Itulah sebabnya sampai saat ini penemuanmu baru sedikit. Kalau saja aku tidak memaksamu, mungkin kau tidak akan pernah menghasilkan apapun!” bentakan Peter membuat emosi Tomy meledak.

“Kau fikir, apa kau itu partner yang baik? Selalu saja memaksakan kehendakmu! Untung saja kita teman! Kalau tidak, mungkin aku sudah….”

“Sudah apa?” potong Peter. “Kalau begitu, mulai detik ini, anggap saja kita tidak saling mengenal! Selesai, kan?” langkah Peter terdengar cepat, Peter membuka pintu kamar Tomy. Dia sedikit terkejut saat mendapati Billy dan Erica berada didepan kamar Tomy. Dia tersenyum kecil pada Erica.

Sebelum Erica sempat membuka mulut, Peter berlalu tanpa membawa apapun. Erica mengalihkan pandangannya ke arah Tomy yang terduduk lemah. “Kalian bertengkar?” Erica bertanya dengan sangat hati-hati.

Tomy mengangkat kepalanya. “Kalian sudah mendengar semuanya. Menurut kalian bagaimana?” ucapannya terlihat sedikit culas.

“Apa masalahnya?” Billy duduk didekat Tomy membereskan berkas kerjanya.

Tomy menggeleng. “Hanya salah paham saja.” Jelas Tomy menutupi sesuatu dari Erica dan Billy. Beberapa saat kemudian, Tomy tersenyum ramah kearah Erica dan Billy. “Ada perlu apa kalian kesini?”

Erica menatap Billy, “Kami ingin minta tolong padamu. Apa kau ada waktu?”

***

“Scorpion??!!” Tomy terhenyak mendengar penuturan Billy dan Erica. “Kalian memiliki petunjuk mengenai mereka?” Billy dan Erica saling berpandangan.

“Sedikit.” Sahut Erica sambil mengeluarkan berkas yang ditemukannya di labolatorium milik ibunya. Tapi dia mengurungkan niat untuk menunjukkan kotak penyimpanan yang tidak ditemukan kuncinya.

“Ini. Apa kau dapat tolong artikan isinya?” Billy berkata dengan nada santai.Tomy menatap mata Billy tajam.

“Apa hubungan kalian dengan Scorpion?” Tomy terdengar seperti sedang mengintrogasi Erica dan Billy.

“Tidak ada. Tapi kami menemukan itu di labolatorium Ibuku. Aku hanya ingin tahu, apa Scorpion ada kaitannya dengan menghilangnya ibuku.” Ujar Erica.

Tomy berfikir sejenak. “Akan kucoba. Ayo ikut denganku.” Tomy beranjak keluar. Erica dan Billy mengikuti langkah Tomy. Sesaat sebelum keluar dari ruangan, Tomy berteriak kecil. “Erica! Bisa kau tolong ambilkan buku-buku yang tergeletak di lantai kamarku kesini?”

Erica bergegas masuk ke kamar Tomy lagi. Terlihat banyak sekali buku-buku non-fiksi seperti hipotesis Brosted Lowry, salah satu ilmuan kimia yang banyak mengemukakan zat kelarutan sampai buku maha karya Big Bang yang menjelaskan proses terjadinya alam semesta. Semua memiliki ketebalan lebih dari 500 halaman!

Mata Erica menyapu seluruh ruangan yang penuh dengan rak berisi buku itu. Matanya tertumbuk pada satu-satunya buku fiksi yang sepertinya pernah dilihatnya. Tangannya terulur ke atas untuk mengambil buku itu. Tanpa kesulitan yang berarti, Erica berhasil mengambilnya. Ditiupnya debu yang menutupi judul buku itu. Sepertinya sudah sangat lama tidak terpakai. Dibacanya judul buku tersebut.

PEGASUS LAND. Itu judulnya. Aneh. Dia seperti pernah melihat buku itu sebelumnya. “Erica! Sudah, belum?” Billy terdengar berlari ke arah Erica. Erica cepat-cepat menyembunyikan buku yang ditemukannya itu diantara tumpukkan buku yang dikumpulkannya.

Billy sampai di tempatnya. “Maaf, Bil. Bukunya berat sekali. Aku terjatuh tadi.” Erica berbohong dengan sangat lancar. Billy menatap Erica. Erica merasa tatapan Billy berbeda dari biasanya. Tanpa diduga, Billy menghampiri Erica.

“Kenapa tidak meminta bantuanku dari tadi, sih?” sungut Billy sambil mengambil tumpukkan Buku yang menutupi wajah Erica dengan lembut. Buku sukses diambil dari tangan Erica. Tapi sepertinya tindakan Billy barusan juga sukses membuat jantung Erica nyaris melonjak keluar.

“Ah…. Thanks.” Erica berusaha menutupi kegugupannya. Billy berlalu tanpa menoleh ke arah Erica. Terlihat Tomy menunggu mereka berdua dari arah tangga.

“Cepatlah, ayo turun.” Sahut Tomy santai. Erica dan Billy mengikuti langkah Tomy. Hingga mereka sampai disebuah pintu yang sama seperti pintu lainnya. Tomy menekan sebuah tombol. Sebuah alat seperti monitor kecil keluar dari balik dinding. Tomy meletakkan tangannya diatas monitor kecil itu, hingga pintu itu membuka secara horizontal.

“Wow. Hebat!” Erica berdecak kagum.

“Masuklah. Alat yang tadi itu adalah pelacak sidik jari. Hanya orang tertentu saja yang bisa masuk kesini.” Jelas Tomy singkat. Seolah mengerti keheranan di wajah Erica. Tapi Billy terlihat tenang seperti sudah biasa melihat hal semenakjubkan tadi.

Erica melangkah masuk. Beberapa saat kemudian, suara mesiu memenuhi seluruh ruangan. Sekejap, sebuah tangga menuju ruang bawah tanah terbuka. Erica tetap tidak bisa melontarkan kata-kata terkejut atau pujian.

Tomy berjalan lebih dulu. Billy mengikuti, kemudian Erica. Mereka sampai disebuah ruangan yang tidak pernah mereka temui sekali pun. Terliha seperti…. Ruangan masa depan. Berbagai hologram, mesin-mesin, monitor, sampai layer tiga dimensi lengkap berada disana.

Billy meletakkan tumpukkan buku-buku yang dibawanya diatas sebuah meja kaca. Sedang Tomy langsung menuju layar datar terbesar yang berada di depan labolatoriumnya. Erica menghampiri Billy yang mengamati Tomy bekerja. Billy terlihat sangat serius.

Erica menggunakan kesempatan itu untuk menyembunyikan buku yang ditemukannya tadi dari tumpukkan buku yang dibawa Billy. Dilemparnya buku itu kebawah meja. Beberapa saat kemudian, Tomy menghampiri mereka.

“Sekarang, apa yang ingin kalian ketahui?” Tomy membuka suara.

“Semuanya.” Billy menjawab dengan pendek. Erica menatap Billy heran. Sikap Billy sedikit berubah sekarang. Semenjak tadi siang saat mereka berbincang-bincang dengan Tomy dan Peter ingatnya.

Tomy menatap Billy lagi. Suara-suara gelembung dari tabung raksasa yang berada di empat sisi labolatorium saja yang membuat suasana tidak terlalu mencekam. “Baiklah. Kita mulai.” Tomy mengambil bundelan kertas yang diterimanya dari Erica.

Dia menuju layar raksasa yang telah didatanginya saat masuk ke lab. Mengutak-atik beberapa tombol. Fungsi layar itu seperti computer berotak brilian. Dengan cepat, computer melakukan perintah yang dilakuakan Tomy dengan memencet tombol atau dengan suara.

Saat terbuka, terlihat dengan sangat jelas tulisan-tulisan yang mmbuat mata mereka tidak berhenti berkedip.

***

TO BE CONTINUED…

BAB IV

Perjumpaan Kembali

Suara rintikkan hujan terdengar samar-samar dari jendela rumah tua di perbatasan kota. Rumah yang menurut masyarakat sekitar tidak berpenghuni…. Derap langkah kaki orang yang beranjak mendekati rumah itu terdengar samar-samar dibalik tirai hujan yang menghalangi. Langkahnya terdengar sedikit tergesa-gesa. Setelah memastikan sekelilingnya, tubuhnya masuk dan segera menutup pintu dengan perlahan.

“Akhirnya, kau kembali juga Rob!” cetus seorang wanita muda dengan angkuhnya. “Kukira kau masih memiliki rasa malu untuk kembali kesini setelah gagal di tugasmu. Bukan begitu?”

Robston berlalu tanpa mempedulikan ocehan wanita itu. “Bersikaplah lebih hormat padanya, Mika. Setidaknya, dia membuktikan dirinya berguna bagi kita sekarang.” Ujar seorang pria yang terlihat lebih berwibawa diantara mereka. “Apa ada informasi baru, Rob?”

Robston tersenyum mendengar pembelaan tuannya. “Ada sedikit informasi yang kudapatkan di labolatorium Mrs Hilmer mengenai keberadaan negri Pegasus.” Sahut Rob hormat. “Kami menemukan berkas-berkas ini dilaci kerjanya. Ditulis dalam sandi yang sedikit sulit diterjemahkan. Kalau Tuan mengizinkan, saya bersedia mencari tahu.” Rob menawarkan jasanya.

Pemimpin mereka menggeleng tegas. “Tidak perlu kau buang waktu untuk hal seperti ini. Biar kusuruh Mrs Hilmer langsung membacakan isi dari berkas ini. Kurasa, dengan sedikit ancaman, dia mau membantu kita. Apa hanya itu?”

Rob mengeluarkan kotak dari sakunya. “Benda ini bereaksi saat aku mendekatkannya dengan pencari jejak batu negri Pegasus. Kurasa, benda ini akan sedikit berguna.”

“Bagus. Kau membuat kami merasa terbantu dengan pengabdianmu selama ini. Tapi harusnya Dragon bersamamu, bukan?” sahut Mika tajam dan sedikit menyindir.

“Maaf, tapi kami mendapat sedikit masalah saat berada di kediaman keluarga Hilmer. Saat itu kami secara tidak sengaja bertemu dengan putri Mrs Hilmer. Tapi bisa kami atasi dengan kemampuan menghilangkan ingatan Dragon. Kurasa, tidak akan terjadi hal buruk.” Ujar Rob.

“Putri Mrs Hilmer? Menarik. Kita bisa memaksa Mrs Hilmer bekerja sama dengan dalih putrinya. Siapa nama putri tercinta Mrs Hilmer?” sahut pemimpin mereka tenang.

“Erica. Kurasa namanya Erica. Saat kami menghilangkan ingatannya tentang kami, sebelum jurus itu berhasil dilakukan Dragon, seorang temannya memanggilnya. Jadi, jurus itu belum berhasil sepenuhnya. Kami benar-benar minta maaf” ujar Rob lagi.

Mika mendengus kesal. “Apa yang kau lakukan, hah? Kalau memang mereka tidak sempat melihatmu, bukan berarti mereka tidak menyadari kehadiranmu. Ketua, sekarang kita harus segera bertindak! Setidaknya, mereka mengetahui keberadaan orang-orang yang mengganggu mereka, bukan?”

Orang yang disebut ketua itu berfikir sejenak. “Kau yang ahli dalam hal ini, Mika. Kuserahkan mereka padamu. Bawa mereka hidup-hidup. Kita akan memanfaatkan mereka untuk bernegosiasi dengan Mrs Hilmer.” Perintah ketua membuat Mika tersenyum lebar.

Kemudian dia melangkah ke pintu dan melempar pandangan sinis ke arah Rob. Mengambil jubah dan peralatan bertarungnya, hingga sosoknya menghilang dari balik pintu. Rob menatap punggung Mika yang berlukiskan kalajengking. Kalajengking yang sedang mencapit mangsanya. Dengan darah disekitarnya.

***

Erica, Elie dan Billy pergi ke desa Siberia untuk melihat Vila yang ingin di beli Mr Hilmer. Suasana pedesaan yang sejuk membuat mereka nyaman seketika. Keluarga William merasa lega karena semenjak kedatangan Erica dan Billy, Elie menjadi lebih sering tersenyum. Tidak lagi menjadi anak yang suram.

“Keadaannya masih bagus dan mendukung sekali. Letaknya juga sangat strategis dan indah. Saya yakin ini akan menjadi aset yang sangat berharga. Tirai-tirainya walau sudah tua masih terlihat…..” dan bla bla bla. Pembicaraan seputar Vila langsung menyita perhatian orang dewasa.

Erica, Elie dan Billy menyingkir dari kerumunan orang dewasa. Dan mereka memilih keluar untuk menikmati panorama pedesaan yang tidak akan mereka temui di kota. “Aku punya seorang teman disini. Mungkin dia mau membantu kita untuk berkeliling, teman-teman.” Ujar Elie.

Erica dan Billy merasa sangat senang. Kemudian Elie mengajak mereka ke sungai. Erica berjalan mendahului. Billy dan Elie berjalan beriringan. Dan mulai berbincang.

“Kufikir kau orang yang menyebalkan sekali, Bil” ujar Elie jujur. Billy tersenyum kecil.

“Aku tahu kelakuanku saat kita baru bertemu kemarin sangat menyebalkan sekali, ya?” Billy membalas ucapan Elie. Elie hanya menatap Billy tidak mengerti. “Yah…. Anggap saja kelakuanku itu hanya sebagai bonus perkenalan kita. Aku sangat kesal padamu saat kau bertingkah kasar pada Erica.”

Elie menatap Billy penuh makna. “Kau menyayanginya?”

“Tentu saja. Dia orang yang mengajarkan banyak sekali hal baru padaku. Dia yang memberikan aku kesempatan untuk tinggal dirumahnya. Walau sikapku padanya terbilang kasar, tapi aku sangat mengaguminya.” Billy berucap dengan mata menerawang jauh.

Sepersekian detik, Elie menundukkan kepalanya. “Aku masih tidak mengerti kenapa semua orang sepertinya menyukai Erica.” Billy terlihat terkejut dengan ucapan Elie.

“Dari mana kau mengetahuinya? Kau baru mengenalnya, kan? Kenapa kau tahu semua orang menyayangi Erica?” serbu Billy. Beberapa detik Elie terdiam. Tapi kemudian mengangkat kepalanya kembali.

“Hanya feeling. Apa aku salah?”

Billy menggeleng kuat. “Tidak. Itu benar, kok.”

Elie tersenyum manis. “Aku tidak mengerti kenapa Erica begitu gencar mendekatiku? Padahal aku sudah sejahat itu padanya. Menurutmu bagaimana?”

Billy memasukkan tangannya ke dalam saku celananya. “Erica memang aneh. Dia banyak melakukan hal-hal yang tidak biasanya dilakukan oleh anak seumurnya. Aku juga tidak mengerti. Tapi selama ini, keputusan yang dia ambil selalu tepat. Jadi kau tak perlu khawatir.”

Erica berbalik dan menatap curiga pada Billy dan Elie. Lalu berlari mendekati mereka. “Hey El. Kau baik-baik saja?” kemudian Erica menatap selidik pada Billy. “Kau tidak mengatakan hal yang menyakitinya, kan?” Erica berkata sembari menarik lengan Elie ke arahnya.

Billy mencibir. “Aku sudah tidak tertarik untuk mengganggunya.” Kemudian, Billy beranjak berjalan terlebih dahulu. Sampai akhirnya, seseorang memanggil Elie dari belakang.

“Elie?” Elie menoleh. Raut wajahnya seketika berubah ceria.

“Hey, Peter. Lama tidak bertemu.” Sapa Elie ramah.peter terlihat sedikit terkejut.

“Wow! Satu tahun tidak bertemu, banyak perubahan pada dirimu, El.” Aku Peter jujur. “Well, kau terlihat lebih cerah.” Elie tersipu mendengar pujian Peter.

“Hello. Siapa dia, Elie?” Erica menyadarkan mereka mengenai keberadaannya dan Billy di dekat mereka. Peter tersenyum melihat Erica. Postur tubuh yang gagah dan wajah tampan Peter membuat Erica sedikit memperhatikannya. Terlebih…. Dia terlihat… sedikit liar.

“Hey, aku Peter, teman Elie. Kalau boleh kutebak, kalian datang dari kota, kan?” Peter mengulurkan tangannya.

Erica membalasnya. “Aku Erica. Sepupu Elie dari Washington. Salam kenal.” Mereka berjabatan agak lama.

“Memang sudah sewajarnya, ya. Gadis cantik memiliki saudara yang tak kalah cantiknya.” Erica tersipu mendengarnya. Perbincangan mereka terpotong dengan ucapan Billy.

“Aku Billy, teman yang satu rumah dengan Erica.” Billy sedikit mempertegas ucapannya disertai dengan sedikit deheman. Erica melepas genggaman tangannya.

“Oh, akhir pekan yang menarik aku memiliki teman baru seperti kalian.”

“Sudahlah, Pet. Kau bisa menggombal lagi nanti. Sekarang, temani kami ke sungai. Ok?” Peter mengangguk setuju.

Mereka berjalan beriringan menuju sungai yang terletak tepat dibawah bukit tempat vila Elie berada. Ketika air sungai yang jernih itu sudah terlihat, Peter segera berlari menuju das, tumpukkan bebatuan unik yang membentuk kursi panjang. Disana, anak laki-laki meletakkan pakaiannya untuk menceburkan diri ke air.

“Tomy!! Aku kedatangan teman. Cepat keluar.” Peter berteriak ke arah air. Beberapa saat kemudian, keluarlah seorang remaja seusia mereka yang terlihat sedikit kumal karena Lumpur.

“Kenapa sih, Pet. Aku baru saja bermain di laguna.” Tomy sedikit protes.

“Laguna?” Elie, Erica dan Billy bertanya bersamaan.

“Taman kecil yang kami buat didasar sungai.” Erica sangat takjub mendengarnya. Tomy keluar dari air dan mengeringkan tubuhnya. Cowok itu mengenakan pakaiannya. Sesuatu yang lebih mengejutkan, cowok yang sepintas terlihat cool itu mengenakan kacamatanya yang berlensa sangat tebal.

Erica dan yang lainnya duduk di tepi sungai diatas das yang berukuran kecil. Saat Tomy sudah bergabung dan saling mengenalkan diri, mereka mulai akrab dengan memulai perbincangan mengenai hal yang tadi sempat membuat mereka bingung setengah mati.

“Bagaimana kalian membangun laguna yang seharusnya tercipta secara alami? Apalagi, setahuku, laguna hanya berada di laut dan dijadikan tempat tinggal ikan, kan?” Erica memulai rasa penasarannya.

Peter tersenyum. “Ini semua idenya, Er” Peter melirik kearah Tomy yang masih sibuk mengeringkan rambutnya dengan handuk.

“Aku hanya ingin membuat penduduk di desa ini lebih nyaman dengan penemuanku saja. Salah satunya laguna itu.” Erica tercenggang mendengar perkataan yang disampaikan Tomy dengan sangat santai itu.

“Penemuan? Kau masih SMA, kan?” Erica kembali angkat suara.

Tomy menggeleng. “Seharusnya memang iya, tapi aku selalu loncat kelas. Jadi tahun ini aku sudah lulus kuliah sarjana teknik.” Benar-benar mengagumkan.

“Benarkah? Hebat sekali! Lalu, apa saja yang sudah kau temukan?” kini Elie terlihat sangat berminat dengan perbincangan Tomy.

Tomy masih berfikir, seolah-olah begitu banyak yang ditemukannya hingga membuatnya sedikit lupa. “Hmm, penemuan terbaruku sih masih sederhana. Kincir multifungsi disana juga rancanganku.” Erica mengalihkan pandangan ke arah mata Tomy menunjuk. Sebuah kincir raksasa terpampang kokoh di sebelah air terjun yang turun di kiri Erica. Sungai ini merupakan air yang dialirkan oleh air terjun kecil disana.

“Bagaimana sistem kerjanya?” Billy angkat bicara.

“Simple saja. Pada siang hari, kincir itu berfungsi sebagai kincir angin biasa untuk mencegah tekanan air terjun yang terkadang sangat tinggi. Juga membuat aliran sungai ini mengalir tenang. Pada malam hari, kincir itu akan memanjang dan berada tepat dibawah air. Sistem pergerakan kincir yang teratur membuat tenaga listrik. Pada malam hari, kami terbiasa menggunakan kekuatan kincir itu daripada listrik pada umumnya.” Erica, Elie, dan Billy tercenggang mendengar penuturan Tomy.

“Selain itu, pada tangkai besi kincir terdapat batuan sejenis zircon yang bersinar ketika cahaya bulan mengenainya. Sinar tersebut berwarna-warni. Indah sekali. Entah darimana Tomy mendapatkan batuan itu.” Kini Peter menambahkan.

“Aku hanya menggunakan batuan yang kandungan kristalnya tidak beraturan hingga menimbulkan efek cahaya. Tidak perlu berlebihan, Peter.” Tomy sedikit risih mendengan tatapan takjub Erica dan yang lainnya.

“Ini energi masa depan, Tom! Benar-benar mengejukan. Anak seusiamu bisa menciptakan penemuan sebesar ini. Hebat!” puji Erica tulus. Tomy tersenyum miris.

“Tapi aku tidak ada minat untuk mempublikasikannya.” Tomy berkata tiba-tiba.

“Kenapa?” Elie bertanya heran.

“Banyak konsep yang belum matang dalam penemuanku. Terlalu beresiko untuk dicoba.” Mereka hanya mengangguk mendengarkan penjelasan Tomy.

Mereka mengobrol mengenai hal-hal ringan seperti rutinitas mereka sekolah, atau mengenai klub atletik Erica dan Billy, hingga suatu perbincangan, membuat mereka terlibat pada situasi tegang. Ketika Elie mulai merengek pergi ke hutan.

“Apa kau serius, El?” Peter berucap dengan nada kecemasan.

“Memang kenapa? Aku juga ingin kesana. Di kota, kami tidak bisa menikmati kesejukan seperti disini….” Erica ikut membela keinginan Elie.

Tomy dan Peter saling berpandangn sejenak. Tatapan mereka terlihat kacau. “Maaf, tapi kepala desa melarang kami mendekati hutan itu.” Tomy berkata dengan lugas.

Erica mengernyitkan kening. “Kenapa?”

“Hm…. Hutan itu sangat berbahaya. Lebih baik jangan dekati hutan itu.” Peter ikut mendukung Tomy.

“Berbahaya? Tapi tahun lalu kita masih kesana, Pet. Tidak ada apa-apa waktu itu.” Elie mempertegas.

“Itu dulu, El. Sekarang kejadiannya sudah berbeda. Lebih baik jangan dekati hutan itu.”

“Hey. Sebenarnya apa yang terjadi. Kalian menyembunyikan sesuatu dari kami.” Billy memilih berbicara dengan santai. Erica dan Elie juga terus membujuk hingga akhirnya Peter menyerah.

“Baiklah, kami akan menceritakan kejadian yang akhir-akhir ini meresahkan rakyat.” Peter akhirnya menyerah.

“Tapi kepala desa melarang kita menceritakannya pada siapa pun. Terlebih pada wisatawan seperti mereka.” Sergah Tomy resah. Dia tidak mempercayai Erica, Billy dan Elie.

Peter terdiam. “Ayolah, Tom…. Ceritakan pada kami. Mungkin kami bisa membantu?” bujuk Erica. Tomy menatap mata mereka satu per satu. “Kami berjanji tidak akan menceritakan pada siapapun. Janji.” Tegas Erica lagi.

“Kalau tidak diberi tahu juga tidak apa. Kami akan mencari tahu sendiri kesana.” Ancaman Billy terbukti ampuh. Tomy langsung melotot kaget.

Tomy menatap Peter sebentar. Peter mengangkat bahu. “Kuserahkan ini padamu, Tom.” Tomy menarik nafas panjang.

“Karena hutan itu hutan sihir.” Tomy berbicara dengan perlahan.

“Hutan sihir??!” mereka bertiga berbicara dengan keras hingga Peter dan Tomy menyuruh mereka diam. Tomy menatap sekelilingnya penuh curiga. Matanya berkeliat cepat pertanda resah.

“Siapapun yang kesana, akan mendapatkan ganjaran seperti luka. Bahkan ada yang sampai meninggal. Karena itu lah, kepala desa kami melarang siapa pun untuk mendekati hutan itu.” Tomy meneruskan ceritanya.

“Mereka diserang hewan buas?” Billy bertanya penasaran. Erica mendengarkan dengan seksama. Sedang Elie menggenggam tangan Erica ketakutan.

Peter menggeleng. “Semula kami mengira seperti itu. Tapi Aku melihatnya sendiri. Saat kuda hitam bersayap dan bermata merah menghadang aku dan beberapa penduduk desa yang sedang berburu dihutan. Hewan aneh itu meringkik marah. Dia menghentak-hentakkan kakinya ketanah. Bumi serasa bergoncang. Padahal tempat kami tidak pernah gempa sama sekali” papar Peter.

“Tunggu dulu! Kuda hitam bersayap maksudmu? Pegasus? Mana mungkin ada Pegasus didunia ini. Itu hanya hewan dongeng!” Erica membantah. Erica mengetahui beberapa hal menenai Pegasus dari cerita yang didengarkannya dari ibunya, itupun bukan dari buku-buku non-fiksi atau ilmiah, tapi dari buku dongeng penghantar tidur.

“Tapi begitulah kenyataannya.” Tomy membalas ucapan Erica. Entah mengapa, sinar wajah Billy berubah.

“Kemudian, suasana hutan kembali mencekam. Suara-suara hewan terdengar tidak terkendali. Mereka seperti lari dari sesuatu. Saat kami ingin lari, beberapa hewan ganas lain datang….. dan menyerang…. Aku lari…. Lari ke arah air, dan menenggelamkan diri disana. Aku tahu hewan yang mengejarku tidak bisa berenang, karenanya aku nekat.” Peter menceritakan pengalamannya tanpa beban. Apalagi takut.

“Lalu? Kau selamat?” Elie memberanikan diri bertanya.

“Seperti kalian lihat” Peter menunjukkan tubuhnya yang sehat. Kemudian, wajahnya kembali murung. “Tapi…. Penduduk yang bersamaku lenyap. Hilang begitu saja. Kalau pun mereka tewas diserang hewan buas, pastinya jenazah mereka ditemukan. Tapi mereka hilang tanpa bekas.”

“Sebagian hilang, dan sebagian meninggal. Itulah yang menyebabkan kami takut kesana lagi.” Aku Peter.

Semua mata tertuju pada Tomy. “Aku tidak tahu alasan mereka hilang. Tapi yang jelas, sesuatu yang berbahaya menanti disana. Kini, penduduk tidak ada yang berani mendekati hutan sihir itu.” Tomy mengungkapkan argumennya.

“Tapi kenapa kalian merahasiakan kebenaran ini dari wisatawan?” Billy berkata dengan sedikit serak. Erica memperhatikan Billy sebentar. Ada yang aneh dengan Billy.

“Kami tidak ingin mengambil resiko untuk mengatakan kenyataan ini. Wisatawan bisa dengan nekat membuktikan berita ini. Kalau sampai berita ini menyebar melalui media, akan semakin banyak turis yang datang. Dan akan semakin banyak juga manusia yang hilang. Lebih baik merahasiakannya agar keberadaan hutan tidak terlalu mencolok.” Tomy menjelaskan.

“Tapi bagaimana jika ada wisatawan yang tidak mengetahui mengenai perihal ini, dan mencoba untuk kesana? Seperti kami tadi?” Erica tampak tidak setuju dengan pemikiran Tomy dan penduduk desa ini.

“Letak hutan itu sangat terpencil di sebelah utara desa ini. Kalaupun mereka mengetahui keberadaan hutan, mereka akan mengurungkan niat untuk masuk kedalamnya, karena sudah kupasangi hologram yang cukup membuat keberanian mereka menciut.” Tomy menunjukkan lagi kejeniusannya.

“Baik. Mungkin tidak sekarang. Tapi kami pasti akan mencoba kesana.” Billy mengambil kesimpulan. Erica mengawasi Billy sedari tadi. Dia melihat…. Tatapan mata Billy tidak terfokus. Menerawang.

Tomy dan Peter spontan melotot mendengar perkataan Billy. Entah karena tidak menginginkan perdebatan atau perlawanan, Billy berdiri dan beranjak pergi. “Bil. Mau kemana?” cegah Erica.

“Vila. Aku mengantuk sekali.” semua menarik nafas lega karena ucapan Billy. Mereka mengira Billy akan benar-benar melakukan ancamannya. Kemudian mereka melanjutkan perbincangan mengenai hal-hal ringan lainnya tanpa Billy. Tapi Erica, masih menyimpan seribu tanda Tanya mengenai sikap Billy yang mendadak aneh menurutnya.

Tapi tidak berlangsung lama. Erica memilih untuk melupakan ekspresi Billy tadi. Sebisanya.

***

TO BE CONTINUE….

BAB III

Pertemuan Dengan Elie

Marah, bahagia, sedih, senang, bermain, tertawa, kesepian, sendirian… adalah hal yang terus berputar di dunia ini. Tidak ada seorang pun yang selamanya hidup bahagia. Juga tak seorang pun yang selamanya sendirian dan kesepian.

Begitu pula Elie. Gadis yang dahulu periang, hidup melimpah kasih sayang dan materi. Dilimpahi semua hal yang dibutuhkan dalam pertumbuhan seorang anak. Tapi semua kebahagiaan itu berakhir saat ada orang yang merenggutnya dengan paksa.

“Ma, aku mengalaminya lagi. Bayang-bayang itu begitu jelas. Tapi kali ini sangat mengerikan. Aku takut…” sahut Elie bermanja-manja.

Mrs Robston membelai kepala anaknya dengan lembut. “Elie, terkadang semua anak seusiamu sering melihat hal-hal aneh saat tidur. Itu bukanlah hal yang berlebihan. Kau normal, seperti anak-anak yang lain.” Hibur Mrs Robston.

Elie merajuk lagi, “Mama masih ingat apa yang kukatakan pada Mama tempo hari? Aku melihat bayang-bayang Papa jatuh dari atap dan terluka. Dan beberapa saat kemudian Papa benar-benar jatuh dari atap kan, Ma? Tapi kali ini jauh lebih mengerikan. Sangat mengerikan. Aku melihat darah… begitu banyak darah… pisau… dan, dan sprai putih yang berlumuran darah… lalu aku melihat seseorang… dia berteriak mengemis minta tolong… tapi tidak ada siapapun disana yang mau menolong… lalu orang itu… darah… berdarah…”

“Cukup, sayang.” Sahut Mrs Robston menghentikan kegilaan putrinya. “Hal seperti itu hanya mimpi, kau mengerti? Hanya mimpi. Mama mohon jangan bersikap seolah kau memiliki kelebihan untuk membaca masa depan. Mama khawatir kalau ada orang yang mencelakaimu hanya karena hal konyol seperti ini. Oke?” tegas Mrs Robston. Itu menjadi kesepakatan mereka.

Elie sekolah seperti biasa hari itu. Bermain bersama temannya sampai sore. Dan terhenti saat bayang-bayang itu muncul semakin jelas. Nyaris membuat kepalanya pecah. Elie berlari… berlari menerobos hujan yang entah sejak kapan turun.

Dengan basah kuyup, Elie masuk kedalam rumah. Pandangannya sedikit mengabur karena air hujan yang sempat masuk ke matanya. Sesuatu memaksa Elie untuk bersembunyi saat terdengar derap langkah kaki yang mendekati tempat berdirinya. Elie berlari kearah rak sepatu yang setidaknya cukup untuk menyembunyikan tubuh mungilnya.

Suara beberapa laki-laki dewasa yang berat, desahan nafas yang tidak beraturan, dan obrolan mereka mengenai… rencana pembunuhan, pembantaian… tak sanggup didengar dengan sempurna oleh Elie. Tubuhnya menggigil. Sangat menggigil. Elie berusaha menyembunyikan aura keberadaannya.

Dibalik celah pintu yang sedikit terkuak, dia melihat salah seorang dari mereka mengenakan jas. Jas dengan lukisan dibagian belakangnya. Terlihat dengan sangat jelas. Lukisan kalajengking dengan darah disekitarnya. Saat mereka beranjak mendekati pintu, Elie menangkap sebuah suara yang amat dikenalnya. Sebuah suara yang dikaguminya.

“Sayang sekali anakku belum pulang. Kalian akan sangat senang jika bermain dengannya.” Ayah! Ayah! Ayah! Ayah! Hati Elie menjerit keras sekali. Elie semakin ketakutan.

“Kau bisa menyerahkan putrimu itu saat dia sudah dewasa nanti, Rob,” ujar yang lainnya. “Menyenangkan sekali bermain dengan istrimu”

BLAM.

Mereka keluar dan menutup pintu dengan keras. Elie keluar dengan berlinangan air mata. Entah apa alasannya, tapi hatinya kini terasa begitu sakit. “Mama!” Elie berlari menaiki tangga dan beranjak ke sebuah kamar. Dibukanya pintu dengan perlahan. Harapannya hanya satu sekarang. Semoga tidak terjadi sesuatu pada ibunya. Hanya itu.

Pintu berderit kecil. Elie melangkah masuk, nalurinya memaksa untuk menyibakkan selimut yang menutupi tubuh seseorang. Pupil matanya kontan membulat saat melihat tubuh ibunya. Ibu yang amat dicintainya itu terbaring tak bernyawa dengan sebuah belati didadanya. Darah menyebar ke seluruh sprai putih ditempat tidur. Dan yang lebih mengerikan… sosok Mrs Robston…

Terbaring tanpa busana…

Elie berusaha berteriak. Tapi suaranya tak kunjung keluar. Semua terasa gelap… saat dia sadar, ibunya telah dimakamkan dan dia… tidak pernah melihat ayahnya setelah itu. Tidak pernah sama sekali.

Keluarga William yang terenyuh terhadap tragedi mengerikan yang dialami Elie, mengadopsinya menjadi anak. Alasan lain karena mereka tidak memiliki anak. Tapi semenjak kejadian tragis itu, Elie menutup hatinya rapat-rapat. Menyendiri… Selalu sendirian… tak seorang pun yang melihat Elie tersenyum seperti dulu. Tak seorang pun yang benar-benar tahu, kepedihan apa yang bersarang dihatinya… tak seorang pun.

***

“Apa Pa? kita mau kerumah sepupu Papa di California? Papa tidak pernah menceritakan sepupu Papa itu sebelumnya, kan?” tukas Erica setengah terkejut.

“Yah… sebenarnya dia sepupu Mama mu Erica. Rencananya Papa mau meminta untuk membuat persetujuan mengenai hak milik vila nenek di Siberia. Kamu sudah tahu tentang itu, kan? Papa berniat membuat penginapan disana.” Jawab Mr Hilmer santai.

“Tapi, Pa… proyek itu bisa ditunda, kan? Setidaknya sampai turnamenku dan Billy selesai. Kami tidak bisa menangguhkan pertandingan ini.” Protes Erica.

Mr Hilmer menggeleng dan beranjak menuju meja kerjanya. Mengambil beberapa berkas, dan meminum secangkir kopi. “Ini bukan sekedar proyek biasa, Erica. Ini menyangkut masa depan perusahaan Papa. Papa sudah merintis bisnis ini sangat lama. Dan ini adalah kesempatan emas untuk mendapatkan saham banyak. Papa berani mengambil resiko ini karena Papa fakir kau bisa diajak bekerja sama. Kecuali kalau kau mau tinggal dirumah. Dan Papa pergi sendiri ke California.” Tegas Mr Hilmer.

Erica nyaris menangis karena Mr Hilmer tidak mempedulikan protesnya. “Sudahlah, Er. Kupikir pertandingan ini bisa digantikan.” Sahut Billy dari ambang pintu.

“Tapi…! Pelatih akan sangat kecewa, Bill! Kau tahu itu, kan? Pertandingan ini mereka serahkan pada kita dengan harapan sekolah kita dapat membawa piala dan kebanggan untuk pertama kalinya! Aku tidak dapat membayangkan kalau…”

“Kau tidak berfikir kalau kau yang terhebat, Kan?”sela Billy ketus. “Lagi pula, ptoyek Paman jauh lebih penting dan memiliki masa depan dibandingkan pertandingan yang bahkan kita tidak mengetahui hasilnya.”

Mr Hilmer mengangguk. “Pikirkan baik-baik, sayang. Papa tidak berniat memaksa. Hanya… berat bagi Papa untuk meninggalkanmu sendiri dirumah. Tapi kalau kalian bersikeras mengikuti turnamen itu, Papa juga tidak bisa membatalkan keberangkatan Papa ke California. Dan kalian terpaksa ditinggal dirumah.” Ujar Mr Hilmer.

“Aku ikut, Paman. Pertandingan ini bukan segalanya bagiku. Tapi mungkin aku dan Erica sedikit berbeda pendapat.” Sahut Billy cepat. Erica mendengus kesal. Beranjak keluar, dan masuk kedalam kamarnya,

BLAM.

Pintu ditutupnya dengan keras.

***

Erica menekuk wajahnya.diliriknya Billy dengan kesal karena sepanjang hari berseri-seri tanda kemenangan. Akhirnya dia pergi meninggalkan turnamennya menuju California. Hanya untuk itu. Baginya ini merupakan kekalahan yang lebih menyakitkan dari pada kalah saat pertandingan. Seharusnya dia bersedia saja ditinggal dirumah.

“Paman, sepertinya ada seseorang disini yang menginginkan ice cream. Apa tidak lebih baik membelikannya dari pada harus semobil dengan orang yang terus-terusan menekuk wajahnya?” sindir Billy. Mr Hilmer tertawa keras. Erica semakin kesal. Karenanya, dialihkan perhatiannya ke arah jalanan. Matanya menyapu seluruh pemandangan kota kecil dengan gedung-gedung pencakar langit yang tidak setinggi di Washington.

Mobil APV milik Mr Hilmer membelok ditikungan, ke arah jalan kecil di pinggir kota. Bangunan sederhana kontras dengan wilayah disekitar kota kecil California berdiri dihadapan mereka. Mr Hilmer menghentikan mobilnya di pekarangan rumah itu. Mr Hilmer, Erica dan Billy keluar dari mobil.

Mr Hilmer mengetuk pintu. Seorang wanita separuh baya berdiri dihadapan mereka. “Selamat siang, apa betul ini kediaman keluarga William?” Tanya Mr Hilmer sopan.

“Ya, betul. Ada perlu apa?”

Mr Hilmer terlihat senang. “Maaf mengganggu. Saya Mr Hilmer…”

“Ah, iya saya tahu! Anda Mr Hilmer dari Washington? Saya sudah mengetahui rencana kedatangan anda hari ini. Silahkan masuk.” Mrs William memekik girang. Lalu dengan sedikit terkejut dengan sambutan yang diterimanya, Mr Hilmer menuruti ajakan wanita itu. Diikuti oleh Erica dan Billy.

“Bagaimana anda mengetahui kedatangan saya? Seingat saya, anda belum saya kabari mengenai kunjungan ini.” Ujar Mr Hilmer saat dipersilahkan duduk.

“Bagaimana mengatakannya, ya… kami memiliki seorang anak yang memiliki naluri sedikit tepat. Yah… ini hanya lelucon. Lupakan saja. Baik, bagaimana dengan memulai pembicaraan dari, ehm… memperkenalkan kedua anakmu ini, Hilmer?” suasana mulai mencair. Mr Hilmer memperkenalkan Erica sebagai anaknya dan Billy sebagai anak asuhnya.

Erica menyimak basa-basi yang dilontarkan Papanya dengan sedikit tertarik. Terutama pembicaraan mengenai anak dari Mrs William. “Maaf, Bibi. Bisakah saya ke kamar mandi?” sela Erica tiba-tiba.

“Oh, tentu Honey! Toilet ada diatas. Naiklah dari tangga utama di ruang tengah, kemudian di pojok kiri ruangan kau hanya tinggal berbelok kedalam sedikit.”arah Mrs William. Terlihat sekali Mrs William adalah wanita yang sangat ramah.

Erica tersenyum, “Thank’s”

Erica segera menuju toilet yang ternyata berada persis di sebelah kamar seorang cewek. Erica tahu hal itu dari plat nama yang terpajang didepan pintu yang bertuliskan ‘ELIE’.

Cepat-cepat Erica menuju kamar mandi. Beberapa saat kemudian, dia keluar. Langkahnya sedikit terhenti saat samar-samar, terdengar suara isakan dari dalam kamar itu. Pastilah penghuninya sedang menangis. Dengan didorong rasa ingin tahunya, Erica memutar kenop pintu yang tidak terkunci. Pintu terbuka sedikit. Erica melihat seorang anak perempuan seusianya menangis. Dari gelagatnya, sepertinya gadis itu tidak menyadari kehadirannya.

“Permisi, boleh aku masuk?” gadis itu menoleh dengan sangat terkejut. Erica terlonjak saat melihat mata anak itu, mata coklat yang ditemuinya saat itu. Gadis misterius yang tiba-tiba saja menghilang. “Kau gadis yang waktu itu?”

“Apa yang kau lakukan dikamarku?! Apa orang tuamu tidak pernah mengajarimu sopan santun? Kau lancang sekali! Aku tidak suka kau seenaknya masuk kesini. Ini wilayahku!” pekik gadis itu tanpa senyum.

“Maaf, aku hanya ingin tahu apa kau baik-baik saja? Karena saat aku melewati kamar ini, aku mendengar suara orang menangis. Kupikir terjadi sesuatu padamu,” Erica berusaha care dengan gadis cilik ini.

“Apa aku terlihat sedang menangis? Apa aku terihat bermasalah? Kalaupun iya, kau tidak punya hak untuk memaksaku mengatakannya padamu, kan?! Satu-satunya masalah disini adalah Mamaku telah menerima tamu yang salah!” jerit gadis itu tidak terkontrol.

Erica tersentak. “Hey… aku hanya bertanya padamu, aku sama sekali tidak berniat mengganggu. Lagi pula kita seusia. Akan lebih baik jika kita berteman, kan?” Erica melihat mata gadis itu menatapnya dengan garang.

“Aku tidak membutuhkan teman! Kau hanya berniat memanfaatkanku, kan? Aku benci orang asing! Pergi dari kamarku!!” jerit gadis itu. Wajahnya memerah.

“Walau kami orang asing, tidak sepantasnya kau mengusirnya seperti itu. Biar bagaimanapun juga, kami tamu orang tuamu” tiba-tiba Billy muncul dari belakang dengan sinis. “Ayo pergi, Erica. Untuk apa kau mengajak bicara orang yang tidak bisa diajak bicara seperti dia.” Billy menarik lengan Erica. Memaksanya keluar dari kamar itu.

Mrs William tergopoh-gopoh menghampiri Erica dan Billy karena terdengar keributan tadi. “Apa terjadi sesuatu denganmu, sayang?” Tanya Mrs William tergesa-gesa.

“Yah… sedikit ada keributan dengan anak Bibi tadi. Mungkin kami terlalu lancang mengajaknya bicara. Dia tidak terbiasa bergaul dengan orang asing, kan?” Billy berbicara dengan nada yang sangat tajam. Erica sedikit terkejut dengan ucapan Billy.

“Oh, maafkan Elie. Dia sangat pemurung. Sejak kecil dia menderita penyakit autisme. Seharusnya kukatakan lebih awal pada kalian agar tidak mengganggunya. Maafkan aku. Aku janji kejadian seperti ini tidak akan terulang lagi.” Erica merasa canggung dengan situasi seperti ini.

“Tidak apa-apa Bibi. Aku hanya ingin berteman dengannya. Kurasa dia hanya sedikit tertekan.” Erica tersenyum di hadapan Mrs William.

***

“Aku tidak menyangka kita akan menginap disini! Kau fikir, hari seperti apa yang akan kita lalui dengan anak perempuan egois seperti dia? Apalagi kau akan sekamar dengannya,” gerutu Billy saat sedang mengemasi barang-barang dari bagasi mobil.

“Sudahlah, Bill. Sepertinya Elie anak yang baik. Kau tidak perlu membentaknya lagi seperti tadi. Terlebih ucapanmu itu sangat tajam.” Sahut Erica. “Tolong bawakan ini” Erica memberikan kopernya yang sangat berat.

“Yah… anak baik yang bisa mengatakan hal seculas itu. Kau memikirkan apa, sih? Dia itu anak penderita autisme. Penyakit aneh yang hanya akan mengidap pada orang aneh. Kurasa pantas kalau dia dijauhi orang disekelilingnya.”

“Hey, Bill! Kurasa ucapanmu itu harus sedikit dikontrol! Dia anak pemilik rumah, dan sebisa mungkin kita harus berhubungan baik dengannya. Setelah ini, kita masih harus menginap 3 hari. Hari yang amat panjang untuk mendengarkan gerutumu, bukan?” cibir Erica jengkel.

Erica mengangkat barang-barang yang ringan kekamar tamu. “Yah… hari yang panjang bersama anak-anak yang membosankan..” lirih Billy.

Erica beranjak menuju kamar Elie. “Erica, apa tidak apa-apa kau sekamar dengan Elie? Kalau mau, kau bisa memakai kamar tamu dibawah. Walaupun kecil, tapi kurasa nyaman kalau kau menginap disana.” Tawar Mrs William pada Erica. Erica merasa seluruh orang berusaha untuk menjauhkannya dari Elie.

“Tidak apa-apa, Bibi. lagipula aku takut kalau harus tidur sendiri.” Sebuah kebohongan kecil Erica lakukan hanya untuk bisa sekamar dengan Elie.

Erica masuk dan mendapati Elie di atas tempat tidurnya, sedang mencoret-coret sebuah kertas. Ketika Erica datang, buru-buru disembunyikannya kertas itu. “Hey! Aku menginap disini malam ini. Apa boleh aku masuk?” Erica membuka pembicaraan. Terlihat Elie lebih bisa mengontrol emosinya malam ini.

Karena tidak mendengar jawaban dari Elie, Erica segera mengambil posisi tepat disebelah Elie. Tempat tidur yang cukup besar untuk satu orang. Elie spontan terlonjak kaget. “Apa yang kau lakukan disini?” pekik Elie.

“Sudah kukatakan, kan? Aku menginap disini malam ini. Dan ibumu menyuruhku tidur disini. Dikamarmu. Jadi, ini wilayah kita berdua, kan?” Elie terlihat kesal sekali. Tapi dia tidak berteriak untuk mengusir Erica, atau melempari Erica dengan barang-barang yang berada didekatnya, atau bahkan membuang barang-barang Erica. Hal itu sama sekali tidak dilakukannya.

Erica merasa aneh dengan perilaku Elie. Tapi hal itu tidak di pedulikannya, saat Elie memutar tubuhnya dan tidur dengan membelakangi Erica. Erica tidak bisa berbuat sesuatu yang lebih untuk mencairkan suasana.

“Hey El, kau tahu sesuatu mengenai pengorbanan?” Erica memulai perbincangan saat beberapa lama terdiam. Elie diam tidak menjawab. Tapi Erica merasa Elie mendengarkan ucapannya. Elie belum tidur. “Mamaku selalu memberiku beberapa alasan mengenai hal yang kutanyakan. Dia wanita yang amat cerdas. Ketika aku bertanya padanya mengenai impian yang kuinginkan, dia menjawab dengan simplenya kalau semua hal itu dapat kita raih dengan pengorbanan. Pengorbanan yang pantas diberikan untuk menggapai impian itu sendiri… pengorbanan yang setimpal.”

Suasana sunyi seketika. Elie sama sekali tidak berkomentar. Erica melirik ke arah Elie yang masih tetap membelakanginya. “Mama selalu mengatakan alasan pada setiap hal yang dia perbuat.” Erica berbicara lagi. “Tapi tidak pada satu hal. Mama tidak pernah mengatakan alasan mengapa dia pergi, mengapa dia tinggalkan kami selama ini. Dia tidak pernah memberikan alasan mengapa dia melakukannya…”

“Berhentilah membual mengenai ibumu! Aku tahu kau bermaksud mendekatiku dengan cara rendah seperti itu, kan? Kau pembohong!” Elie menarik tubuhnya, mengambil kasur lipat yang terletak di bawah tempat tidur, dan tidur di lantai. Meninggalkan Erica terpaku mendengar hentakkannya.

Malam itu mereka lalui dalam diam…. Dan suram….

***

“Aku tidak mengerti mengapa dia begitu membenciku. Padahal aku merasa dia sama denganku. Tapi dia selalu berwajah masam kalau didekatku. Juga berkata kasar kalau aku berbicara. Apa aku mengatakan sesuatu yang membuatnya kesal? Apa aku salah, Bill?” Erica mengatakan isi hatinya siang itu ketika mencabuti rumput di taman keluarga William.

Billy menatap Erica. “Sudah kukatakan berapa kali padamu, Er?! Dia itu gila! Untuk mendekatinya saja kau harus melalui tekanan seperti itu. Biasanya orang akan senang kalau mendapat teman baru. Tapi Elie? Dia gadis yang aneh! Seharusnya kau mendengarkan kata-kataku! Mulai sekarang berhentilah membuang-buang tenagamu hanya untuk mendekatinya.” Erica terdiam mendengar ocehan Billy.

“Aku tahu akan terlihat aneh jika orang melakukan tindakan seperti yang dilakukan Elie padaku. Tapi Elie lain, dia memiliki sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang sama denganku. Aku tidak tahu hal apa itu. Tapi kurasa… dia itu seperti terbuang dari kehidupannya. Mungkin ini hanya dugaan konyol. Aku tahu.”

“Yah… sangat konyol.” Potong Billy.

“ Tapi keinginanku untuk akrab dengannya sangatlah kuat. Aku ingin… yah…. Katakanlah berbagi cerita dengannya. Alasan simple untuk mendekatinya, bukan?” aku Erica pasti.

“Sejak kapan kau jadi ingin ikut campur urusan orang lain? Biar bagaimanapun juga usahamu untuk memaksanya menceritakan tentang dia. Menceritakannya padamu. Yah… kurasa kau juga tidak bisa memaksanya, kan? Walau seandainya kau menjadi ibunya pun ada batasan privacy setiap orang, bukan?” Erica terdiam sebentar.

“Yah… aku tahu aku tidak memiliki hak untuk memaksanya. Tapi…”

“Berhentilah untuk mendekatinya! Aku tidak suka dengan gadis itu! Dia terlalu tertutup. Terlalu dewasa. Terlalu sendiri dan kesepian. Kau hanya akan repot kalau dia ada didekatmu. Dia anak penderita autisme semenjak orang tuanya meninggal. Alasan yang tidak kuat untuk membuat setiap orang patah semangat untuk hidup. Dia lemah, Erica. Dia sangat lemah. Dan semua orang benci pada orang lemah….!”

“Katakan lebih banyak lagi. Katakan lebih banyak lagi.” Tiba-tiba suara lain muncul dibelakang mereka. Elie!. “Katakan lebih banyak lagi yang kau tahu tentangku. Lebih banyak. Biar kau puas. Aku memang tidak normal. Tapi aku lebih terhormat daripada kau yang suka memaki orang tanpa bukti yang kuat, seolah kau tahu segalanya tentangku. Walau kau berpura mengerti tentangku, tapi kau sama sekali tidak tahu. Hal apa yang membuatku seperti ini.”

Elie menatap Billy tajam. Air mata mengembang dipelupuk mata Elie. Menunggu terjatuh saja. Kemudian Elie berlari dengan kencang. Erica berlari mengejar. “Elie. Billy hanya bergurau. Dia tidak serius memakimu seperti itu. Kimohon maafkan dia.” Elie mengibaskan tangannya dari hadapan Erica.

“Kau pikir aku bodoh? Kau mengira aku terlalu tolol untuk melihat gurauan atau benar-benar makian? Kau sudah dengar dari temanmu kalau aku ini lemah, kan? Ya sudah. Lakukanlah apa yang kalian inginkan tanpa menggangguku.”

Elie berlalu. Erica menatap tajam ke arah Billy. “Puas kau Bill! Kau telah membuat orang yang tidak bersalah menangis! Terima kasih kau sedah mempersulit langkahku.” Erica berlalu tanpa senyum. Billy tercenggang.

“Temanmu telah menyinggung perasaannya. Sayang.” Mrs William menghampiri Erica yang berjalan mengejar Elie. Mrs William menarik nafas panjang. Mendesah pelan. “Elie menjadi seperti sekarang ini bukan karena keinginannya. Dia seperti ini karena kehidupan masa lalunya. Aku hargai keinginan tulusmu untuk berteman dengannya. Tapi lebih baik jangan dekati Elie lagi. Hal itu hanya akan membuat Elie lebih tersiksa dan lebih sulit mempercayai orang lain,” nada suaranya datar. Erica merasa kekakuan dalam situasi ini.

“Maaf, Bibi. apa aku boleh tahu…. Sebenarnya…. Apa yang …. Elie alami? Sampai dia begitu egois dan kasar seperti ini? Aku benar-benar merasa nyaman didekatnya. Karena aku yakin dia anak yang sangat manis, bukan?” Erica berusaha mengambil hati Mrs William.

Mrs William memperhatikan Erica sebentar. “Kau tidak bisa bayangkan, bukan? Kalau Ibumu sendiri… mati dengan mengenaskan. Terlebih kau tahu, kalau ayahmu yang membunuhnya. Apa hal itu dapat membuatmu merasa mudah untuk melupakan kesedihan? Belakangan dia mengetahui kalau ayahnya juga merupakan kelompok pembunuh Scorpion yang sedang diburu polisi internasional. Apa hal itu tidak membuatmu risau?” Mrs William berlalu pergi setelah mengatakan semua kebenaran itu pada Erica.

Erica terpaku sejenak.

Erica beranjak pergi mengejar Elie. Dengan cepat ditemukannya Elie tengah menangis di serambi kamarnya. Erica mendekati Elie dengan perlahan. “Untuk apa kau kesini! Belum puas kau maki aku! Apa belum cukup semua kata-kata teman sok tahumu itu untuk meyakinkanmu kalau aku ini begitu banyak memiliki kekurangan? Aku seperti ini. Dan tidak ada seorang pun yang berhak untuk mengatur kepribadian atau bahkan hidupku!” Elie berkata dengan sesekali mengatur tangisnya.

Erica menyentuh bahu Elie lembut. Elie diam saja. Tidak mengamuk atau bahkan mengibaskan tangan Erica dengan kasar lagi.

“Aku memang tidak kehilangan Ibuku untuk selama-lamanya. El. Tapi aku dapat merasakan kepedihan hatimu karena merasa dikhianati. Terlebih oleh ayahmu sendiri. Bukan hal yang mudah untuk diterima. Tapi aku memiliki kesamaan denganmu.” Elie menatap Erica dingin. Menunggu kata selanjutnya.

“Kau tidak mengerti aku. Jadi berhentilah membual lagi!” pekik Elie kasar.

“Kumohon, dengarkan aku! Kau merasa ingin tahu apa alasan ayahmu melakukan semua hal ini padamu, juga pada ibumu, bukan? Aku punya beberapa petunjuk. Mengenai Scorpion. Kita bisa mencari tahu bersama. Ibuku menghilang juga mungkin ada hubungannya dengan mereka. Aku yakin itu. Kau sama denganku. Kau memiliki keinginan yang tidak jauh berbeda dengan apa yang kuinginkan. Kita memiliki sedikit persamaan, El! Dan hal itu bisa memberi kita alasan untuk berteman.”

Elie menutup wajahnya. “Kau salah jika kau fikir aku mau mengetahui sedikit atau bahkan semua tentang Ayahku. Aku membencinya. Sampai kapan pun hal itu tidak akan pernah berubah.” Erica tersenyum getir. Melihat Elie yang begitu menaruh dendam yang amat besar pada Ayahnya sendiri.

“Aku yakin, Ayahmu mempunyai alasan mengapa dia melakukannya. Kau berhak mengetahui alasan itu. Untuk membuat hatimu tenang, akan lebih baik kalau kau mencari tahu. Setidaknya karena itulah aku bisa lebih optimis sekarang untuk menemukan Ibuku.”

“Apa yang bisa kau perbuat? Kita masih remaja. Tidak besar peluang kita untuk mencarinya.” Elie menengadahkan kepalanya ke arah Erica. Erica tersenyum.

“Berarti kau setuju untuk melakukannya, kan?” Elie mengalihkan wajahnya. “Baiklah. Sudah diputuskan. Kau akan ikut kami dalam melakukan misi ini. Misi rahasia. Ok!” Elie tercenggang.

“Kami?”

“Yah… kita bertiga.” Billy keluar dari balik pintu setelah mendengarkan perbincangan mereka berdua. Elie sedikit terkejut. “Aku tidak akan menarik kata-kataku tadi. Dan aku juga tidak akan minta maaf. Tapi aku bisa menerimamu bersama kami. Sekarang kita teman, kan?” Erica tersenyum mendengarkan kata-kata Billy. Hari yang baru, mereka mulai dengan lebih bersemangat.

***

TO BE CONTINUE…

Kamis, 06 Maret 2008

BAB II

Kelompok Pembunuh SCORPION

3 TAHUN KEMUDIAN…

“Fall” teriak pelatih ditengah pertarungan Billy dan Erica. Erica jatuh terjerembab ditangan Billy. “Cukup, Billy. Latihan kali ini kita akhiri lebih awal. Ada pembicaraan penting mengenai turnamen atletik tingkat wilayah timur yang akan diselenggarakan 3 minggu lagi. Mohon perhatiannya!”

Seluruh anggota klub atletik segera berkumpul tanpa instruksi lebih lanjut. “Latihan khusus untuk menghadapi turnamen atletik ini sebenarnya hanya dikhususkan pada team senior saja. Tapi kali ini ada perbedaan. Karena pihak sekolah dan panitia penyelenggara juga menginginkan adanya perwakilan dari team junior, maka sekolah kita pun akan mengirimkan wakil dari team junior untuk ikut serta dalam turnamen akbar ini. Mulai besok, dengan bimbingan pelatih Richard dan arahan dari team senior, kalian akan mengikuti latihan itu. Karenanya berusahalah dalam tahap seleksi ini. Seleksi ini tidak memandang stratifikasi kelas, jadi team senior juga merupakan saingan kalian. Berusahalah lebih giat, terutama bagi Erica dan Billy. Kemungkinan besar kalian akan ikut dalam turnamen itu jika prestasi kalian tidak menurun nanti. Sekian”

Erica melangkah dengan gontai. Mengenai pembicaraan tentang turnamen itu. Sedikit ada keraguan kalau dirinya bisa bertahan menjadi calon kandidat peserta. Mungkin Billy dapat mengikuti turnamen itu. Yah… Billy memang juara dalam kelas junior. Sedangkan dia, hanya menempati tempat persis dibawah Billy tiap tahunnya. Runner up. Benar-benar mengesalkan.

“Hey Er, mau pulang bersama?” tiba-tiba Billy mengagetkan dari belakang.

“Billy, sudah kukatakan berapa kali padamu. Jangan suka mengejutkanku seperti tadi. Mau mati rasanya kalau kau melakukannya lagi!” cetus Erica kesal. Billy tersenyum jahil.

“Maaf, aku hanya ingin membicarakan sesuatu padamu. Kurasa kita bisa membicarakannya dengan rileks kalau pulang bersama, bagaimana?” ajakan Billy langsung dijawab deheman kecil sebagai isyarat setuju.

“Tidak seperi biasanya kau mengajakku bicara dengan formal. Biasanya kau kan selalu membuatku jengkel.” Cibir Erica. “Baiklah. Apa yang ingin kau bicarakan sebenarnya?”

“Begini, apa kau masih ingat awal pertemuan kita?” Billy memulai dengan pertanyaan.

Erica mengernyitkan kening, “Iya, memang kenapa.” Terlihat wajah Billy sangat senang sekarang. “Kau ditemukan Papa berada di Labolatorium milik Mama. Diruang bawah tanah. 3 tahun yang lalu…” ingat Erica.

“Pada bulan apa kau menemukanku, Er? Apa saat itu aku memegang sebuah batu berkilauan berwarna biru?” Billy menanyakan hal yang aneh menurut Erica.

“Kalau tidak salah kau kami temukan pada musim hujan dibulan Oktober. Aku ingat betul karena hari itu Papa sedang mengurus penutupan Lab itu. Memang kenapa kau tiba-tiba menanyakan hal itu?” kini Erica yang terlihat ingin tahu.

“Lalu mengenai batu berwarna biru? Apa kau melihatnya? Atau kau menyimpannya sekarang?” sahut Billy tanpa mempedulikan pertanyaan Erica.

Erica menggeleng kuat. “Kurasa aku tidak pernah melihat batu yang kau ceritakan itu.” Kini wajah Billy terlihat lesu sekali. Muram diwajah Billy seolah dapat dirasakan oleh Erica. Kini Billy menggumamkan sesuatu yang Erica tidak mengerti. Sesuatu yang terlihat janggal untuk ditelaah.

“Ternyata sudah satu tahun…”

***

Berkali-kali Erica memikirkan tentang Billy. Banyak hal dalam kehidupan Billy yang tidak diketahuinya. Hanya mengenai orang tuanya yang telah tewas saat terjadi perampokan saja yang Erica tahu. Hanya itu. Tidak lebih dari itu. Erica selalu merasa ada bagian dari kehidupan Billy yang misterius. Sesuatu yang sangat pribadi…

Sesuatu yang selalu dirahasiakan dan ditutupinya… Entah apa itu. Baru kali ini Erica merasa lebih dekat dengan Billy. Walau mereka belum pernah akur dan bicara baik-baik mengenai diri mereka masing-masing, tapi mereka merasa sudah saling mengenal.

Erica beranjak ke ruang keluarga. Diputuskannya untuk menjernihkan pikiran dengan menonton televisi. Digantinya chanel TV, mencari saluran berita.

“Dini hari, terjadi perampokan berlian senilai 2 milyard rupiah di sebuah toko perhiasan terkenal Marina. Perampok yang mengakui diri mereka berada dalam sebuah organisasi pembunuh Scorpion, berhasil melukai anak dari pemilik toko Marina tersebut. Telah dikatakan sebelumnya, bahwa toko tersebut telah menyediakan banyak perangkap dan alarm bagi orang yang berniat mencuri, tapi kali ini sama sekali tidak tertinggal jejak untuk di lacak. Pihak polisi menduga ini bukanlah pencurian biasa. Melainkan sebuah gertakan yang mungkin akan dilakukan sekawanan perampok tersebut. Sampai saat ini pihak rumah sakit yang menangani cedera yang dialami oleh anak pemilik toko belum dapat menganalisis penyebab cedera yang dialami anak tersebut. Kini anak tersebut terlihat malang dalam keadaan koma,”

Erica terpaku mendengar berita tragis yang dilihatnya. “Dan bagi pemirsa sekalian diminta untuk waspada apabila melihat lambang ini dan melaporkan hal ini pada pihak polisi terdekat tanpa mengambil resiko untuk menghadapinya sendirian. Karena menurut para polisi, organisasi yang mereka katakan adalah suatu organisasi illegal yang sangat berbahaya, karena diketahui, kelompok ini adalah kelompok legendaris Scorpion yang merupakan penjahat kelas atas pada abad ke-19,” pembawa berita tersebut segera mengundurkan diri.

Layar dihadapan Erica kini tertutup dengan potongan sebuah kain yang berukir lambang yang amat mengerikan. Sebuah lambang yang membuat setiap orang bergidik saat memperhatikannya. Sebuah lambang yang bergambar kalajengking dan darah disekitarnya. Bukan gambar yang menyenangkan untuk dilihat. Apalagi untuk dikenakan.

“Sedang menonton apa, Er? Boleh aku bergabung? Sepertinya mengenai berita kriminal ya?” kejut Billy dari belakang.

“Yah, begitulah… berita kriminal terkejam yang pernah kudengar. Baru kali ini ada penjahat yang melukai bahkan hampir membunuh korbannya dengan memamerkan kejahatannya pada public. Benar-benar mengerikan… apa menurutmu mereka hanya bergurau, Bil?” Erica langsung mengarahkan pembicaraan kepada masalah yang baru saja didengarnya tadi.

Billy terlihat berfikir sebentar. “Apa ,menurutmu selama ini ada penjahat yang merelakan identitasnya dibongkar orang lain? Kurasa bahkan orang terbodoh sekalipun akan berusaha menutupi tindak kriminalnya. Kau tahu, kan? Hukum pidana dinegri ini cukup berfungsi untuk menghalau penjahat macam mereka. Tapi kasus kali ini, sungguh baru kali ini kutemukan. Mengakui kejahatan mereka dihadapan media massa. Jadi, tak ada alasan bagi mereka untuk membuat lelucon yang tidak lucu seperti ini,” Billy langsung mengutarakan pendapatnya dengan jelas.

“Begitu, ya… tapi bukannya kejam, kalau membongkar identitas mereka setelah melakukan rencana pembunuhan. Apa bukan berarti mereka menyatakan kalau mereka bisa melakukannya lagi pada orang lain?” Erica berbicara tanpa menatap mata Billy.

“Kau kenapa, Er? Kau terlihat sangat kacau sekarang.” Billy bertanya penuh perhatian. Erica segera mengelak. Terlihat kacau? Seperti itukah dia dimata Billy sekarang ini?

“Ah, sudahlah. Aku ke kamar dulu. Banyak tugas yang harus kuselesaikan,”

“Mau kubantu?” Billy menawarkan jasanya kini.

Erica menggeleng lemah, “Tidak perlu, terimakasih.” Erica berusaha menghindari pembicaraan yang mungkin akan melibatkannya pada sebuah kejujuran yang selalu ditutupinya. Kini kepalnya dipenuhi pikiran dan bayangan mengenai sosok yang amat dirindukannya.

Mama…

***

Erica terjaga ditengah malam. Erica beranjak ke dapur untuk mengambil minum. Saat dirasanya cukup air itu membasahi kerongkongannya, Erica beranjak menuju kamar. Sudut matanya menangkap pintu menuju ruang bawah tanah, tempat labolatorium Mrs Hilmer terbuka. Seingatnya, pintu itu telah ditutup rapat.

Untuk mengusir rasa penasarannya, Erica memutuskan untuk memeriksa. Dilangkahkannya kaki dengan berat menuju ruangan itu. Ruangan yang selama ini selalu dihindarinya. Karena hanya mengingatkannya pada sosok orang yang menurutnya telah membuangnya.

Dibukanya pintu lab dengan sangat perlahan. Persis seperti 3 tahun yang lalu, pintu masih berdecit kecil, aroma peralatan lab masih sama seperti dulu. Hanya saja lebih berdebu. “Hello, apa ada orang?” Erica berusaha sebisanya untuk mengusir ketakutan dihatinya.

Secepat kilat, tanpa Erica sempat menyadari, sebuah tangan menyekapnya dari belakang. Menutup mulutnya dengan sangat kuat. Dapat dirasakannya bau darah yang tercium dekat. Erica diserang. Dia tidak dapat merasakan apapun. Seketika, tubuhnya ambruk ke lantai lab. Sebelum akhirnya benar-benar tidak sadarkan diri, Erica sempat mendengar beberapa orang berbicara. Salah satunya mengatakan hal yang benar-benar mengejutkan.

Kalimat yang sulit dipercaya oleh Erica. “Ternyata benar, dia putri Mrs Hilmer.”

***

“Er, Er, Erica, bangun, mau sampai kapan kau tidur? Benar-benar sulit ya membangunkanmu.” Erica membuka matanya dengan tergesa-gesa. Terlihat wajah jahil Billy berada disamping ranjangnya.

Erica bangkit dan menyentuh bibirnya. “Apa kau yang membawaku kemari, Bil?” Billy mengernyitkan kening, “Maksudku, kau membawaku kesini setelah menemukanku pingsan di lab. Diruang bawah tanah.” Jelas Erica.

Billy menggeleng kuat. “Tidak, mana mungkin aku menemukanmu di lab. Pintu lab kan sudah ditutup. Lagi pula orang sepertimu memangnya bisa bangun malam-malam hanya untuk pergi ke lab? It’s very impossible, kan?” jawab Billy dengan sedikit mengejek.

Erica terpaku sebentar. Tidak seperti biasanya Erica mau di ejek seperti itu oleh Billy. “Oya, hari ini ada latihan di klub senior, siap-siap saja kalah, ya..” sindir Billy sambil tertawa. Sedetik kemudian, sebuah bantal mendarat di wajah Billy, tepat dimulutnya.

“Bisakah kau keluar, dan biarkan aku mandi!” Erica mendorong tubuh Billy dengan kasar. Billy keluar, dibalik pintu, dia tersenyum lega.

Erica mempersiapkan dirinya untuk sekolah. Hari ini Erica mematut diri dikaca lebih lama dari biasanya. Wajahnya terlihat amat kacau. Erica menyentuh bibirnya, berusaha memastikan kalau tangan orang-orang itu tidak tertinggal disana. Apa kejadian semalam itu hanyalah mimpi? Semuanya, termasuk penyerangan terhadap dirinya yang dirasakan seperti nyata itu? Apa ada penjelasan mengenai hal ini semua? Penjelasan yang masuk akal. Juga mengenai ucapan mereka. Ucapan mereka yang mengatakan sesuatu.

Sesuatu tentang Mama…

Hanya satu kuncinya. Yah… ruang bawah tanah. Erica harus memastikan keberadaan ruangan itu sekarang.

***

Erica terpaksa mengendap-endap keluar sekolah untuk menghindari latihan yang amat didambakannya di klub senior. Kalau tidak segera dipastikan, hatinya tidak akan bisa tenang. Setelah berhasil melewati rintangan yang tidak terlalu berarti, akhirnya Erica tiba dirumah lebih awal.

Tanpa meletakkan peralatan sekolahnya terlebih dahulu, Erica bergegas ke sudut dapur, menuju pintu yang tersambung dengan lorong dan pintu rangkap dibagian lab. Cukup luas ruangan itu dibangun. Erica memutar kenop pintu. Terkunci. Apa kejadian semalam itu hanya mimpi?

Terpaksa Erica merusak kunci itu. Setelah beberapa saat, pintu pun terbuka. Erica berjalan menyusuri lorong. Hingga sampai didepan pintu lab, Erica kembali memutar kenop. Masih terkunci. Akhirnya Erica merogoh bagian bawah karpet didepan pintu, dan mengambil kunci duplikat yang sering ditinggalkan Mrs Hilmer untuk Erica. Bahkan Papa sendiri tidak mengetahuinya.

Dibukanya pintu, menyisakan derit pintu yang sedikit kasar. Sangat berbeda dengan keadaan yang dialaminya semalam. Erica masuk kedalam ruangan itu. Terlihat sedikit berdebu. Beberapa kali, disentuhnya peralatan milik ibunya dengan rindu. Sesekali, terlihat bendungan air dipelupuk mata Erica. Nyaris ditumpahkannya.

“Sudah kuduga kau ada disini. Kurasa sesuatu terjadi padamu karena tidak seperti biasanya kau bolos latihan, bukan begitu?” Erica menoleh kebelakang. Billy berdiri di ambang pintu.

“Apa yang kau lakukan disini? Kalau aku bolos pun itu bukan urusanmu, kan? Berhentilah untuk menguntitku. Biarkan aku sendiri disini. Pergilah!” gertak Erica tajam.

“Aku juga terkadang merasa bosan latihan di klub itu. Aku tidak bermaksud menguntit. Aku juga ingin mengunjungi tempat aku ditemukan oleh ayahmu ini kok.” Jawab Billy sekenanya.

Erica mengalihkan pandangan. “Terkadang, seseorang bisa merasa perlu untuk mengenang masa lalu, kan?” Erica tiba-tiba mengucapkan kata-kata itu begitu saja.

“Kau berhutang penjelasan padaku, Er. Yah… kalau kau tidak mau menceritakan semua atau hanya sebagian saja masa lalumu yang selalu membuatmu seperti ini padaku, aku bisa mengerti, kok.” Billy menatap Erica yang mulai memainkan tangannya pada deretan gelas kimia. “Tapi ada baiknya kalau kau memulai untuk bisa percaya pada orang lain. Bukan untuk membongkar masa lalumu itu. Tapi cukup hanya untuk membagi beban yang kau rasakan. Setidaknya kita teman, kan?”

Erica nyaris menumpahkan air matanya di depan rival terbesarnya itu. Tapi untungnya dapat ditahan. Setidaknya dia tidak ingin menangis didepan Billy sekarang. Tidak untuk saat ini.

“Aku hanya ingin memastikan penyebab kepergian Mama bukan karena dia tidak mempedulikanku lagi. Aku hanya menginginkan bukti simple seperti itu. Sesuatu yang bisa menghilangkan keresahan yang kini berada dibenakku. Aku hanya membutuhkan bukti, Bill. Apa aku salah? Setidaknya kalau nanti Mama kembali, aku tidak perlu memusuhinya karena kekecewaan yang kurasakan bertahun-tahun ini.” Ungkap Erica jujur.

Billy terkesiap. Tidak pernah dilihatnya Erica begitu terpukul seperti ini. “Bagaimana kalau kita mulai mencari.” Usul Billy membuat Erica bingung, “Mencari bukti yang kau bicarakan itu. Aku yakin kita bisa menemukannya kalau mencari disini. Aku akan membantumu,” Erica terharu mendengar tawaran tulus itu keluar dari mulut rival terbesarnya itu.

Mereka mulai mencari. Memeriksa tiap sudut ruangan sampai kedalam lemari penyimpanan, dibagian bawah hiasan yang tergantung disana. Juga deretan lukisan yang berada disetiap dinding. Billy memeriksa bagian laci di meja yang menurutnya tempat bekerja Mrs Hilmer. Membongkar berkas-berkas yang tersimpan dengan sangat rapi disana. Dia masih belum tahu apa yang dapat dilakukannya untuk menolong Erica. Dia tidak tahu apa hal ini dapat membuahkan hasil.

“Apa yang kau lakukan disana, Bill?” Erica tersadar karena suara kertas yang begitu bising mengganggu telinganya. Kemudian dia spontan berteriak saat melihat apa yang Billy lakukan. “Mama selalu melarangku untuk membuka lacinya. Sebaiknya jangan kau lakukan!” larang Erica.

Billy, tanpa menoleh meneruskan pencariannya. “Aku yakin kita dapat menemukannya kalau mencari ditempat rahasia yang tidak pernah terfikir olehmu untuk mengeceknya, Er. Aku yakin bukti yang entah apapun bentuknya itu masih tertinggal disini. Aha! Apa ini?” Billy mengeluarkan sebuah kotak yang memancing Erica menuju tempat Billy.

Erica menatap kotak itu dengan takjub. Ukiran yang sangat indah dengan gambar kuda putih yang sangat anggun. Terpampang disana juga sebuah tulisan seni yang amat indah, bertuliskan: HARTA YANG TERLUPAKAN.

“Dimana kuncinya, ya?” Billy segera membongkar kembali laci itu, saat melihat sinar harapan dimata Erica. Tangannya gemetar seketika, “Apa-apaan ini?” Billy mengangkat sebuah bundelan kertas dengan cover gambar sebuah kalajengking dengan darah segar disekitarnya. Dibagian atas tertulis sebuah kalimat yang membuat mata Erica terbelalak lebar. Tulisan yang sulit dipercaya.

PERJANJIAN MRS HILMER DENGAN SCORPION.

***

Erica melangkah gontai. Hari Minggu yang seharusnya dilewatinya dengan santai sedikit berbeda sekarang. Akibat bolos latihan kemarin, sebagai hukuman, dia harus membersihkan ruangan klub yang berantakan.

Belum lagi kejadian kemarin yang membuat otaknya bekerja dengan sangat keras. Bundelan kertas yang ditemukan Billy kemarin, saat Erica memeriksa bagian dalam yang menurutnya isi dari surat perjanjian dengan kelompok pembunuh Scorpion itu, hanya berisi coretan yang sama sekali tidak membentuk tulisan.

Juga mengenai kotak itu. Tidak ada kunci untuk membuka kotak itu, dia sendiri tidak tahu apa kotak itu bisa memberikan petunjuk mengenai penyebab kepergian Mamanya. Berkali-kali Erica menguap tanda mengantuk. Jelas beberapa hal itu telah memicu jiwanya yang ingin tahu untuk berfikir. Dan otaknya benar-benar lelah sekarang.

BRUK!

Erica terjerembab jatuh. Dibukanya mata untuk melihat orang yang menabraknya. Seorang gadis cilik seusia dengannya terlihat kesakitan didepannya Erica bangkit dan segera mengulurkan tangannya, “Maaf, aku tidak sengaja menabrakmu.” Anak itu menerima uluran tangan Erica.

Erica tersenyum. “Terima kasih. Aku juga salah. Maaf.” Anak itu membungkuk dihadapan Erica. Erica tertawa kecil.

“Sudahlah, tidak perlu sungkan. Aku Erica. Siapa namamu?” Erica memperkenalkan dirinya. Anak itu terlihat sangat pemalu.

“Hey, Er! Kita harus cepat membersihkan ruangan klub hari ini.” Teriak Billy dari belakang Erica. Erica menoleh kearah Billy.

“Tunggu sebentar, aku ada urusan, Bil.” Teriak Erica, “Dia temanku…” ucapan Erica terpotong saat menoleh kearah gadis yang ditemuinya tadi. Gadis itu hilang. Cepat sekali.

“Ada apa? Kau bicara dengan siapa tadi? Tidak terlihat orang disini.” Tanya Billy. Erica menggeleng.

“Bukan siapa-siapa. Mungkin hanya perasaanmu.” Entah apa alasan Erica menyembunyikan pertemuannya dengan gadis misterius itu. Mata coklat gadis itu terlihat sayu dan terluka. Entah mengapa, Erica dapat merasakan kepedihan dimata gadis itu. Kepedihan yang sama dengan yang dirasakannya.

***

TO BE CONTINUE...........